Mencari Tuhan

4385087_e026a6b248_m.jpg

Tidak henti-hentinya manusia memperdebatkan tentang Tuhan. Dari berbagai pemikiran dan berbagai pandangan. Dari yang mengaku beragama maupun yang dituduh tidak beragama. Seorang Karl Marx mengatakan bahwa Tuhan adalah hasil dari pemikiran manusia. Tuhan hanyalah suatu rekayasa pikiran tentang cita-cita menjadi bagaimana seharusnya seorang manusia, yang tidak mampu dicapai di alam nyata. Tuhan adalah wujud eksistensi seorang manusia di dalam angan-angan.

Hal ini menjadikan agama yang memuja Tuhan hanyalah sebagai wadah pelarian manusia dari persoalan-persoalan yang dihadapi. Sebagai suatu pelarian, maka agama mirip dengan candu, yang sering digunakan oleh orang untuk lari dari persoalan. Kemudian muncul istilah yang sangat populer dari kalangan marxis yaitu agama adalah candu rakyat. Kesimpulan ini diperoleh setelah Karl Marx melihat bagaimana perilaku masyarakat Eropa terhadap agamanya.

Tapi pandangan ini ditolak oleh kalangan agama. Seorang teolog, Frans Magnis Suseno mengatakan bahwa kalangan marxis berani mengklaim bahwa agama adalah candu, padahal mereka sendiri tidak memahami bagaimana sebenarnya agama (Kristen). Seorang cendikiawan muslim Jalaluddin Rakhmat, hanya menyayangkan bahwa ketika itu kalangan marxis tidak mencoba berkenalan dulu dengan Islam, kalau sudah kenal, dia jamin maka perkataan agama adalah candu tidak akan keluar.

Seorang sufi kontroversial bernama Al Hallaj lain lagi. Dia mengatakan bahwa “ana al-haq,” “akulah sang Kebenaran” maksudnya akulah Tuhan. Sebagian sufi mengatakan bahwa Al Hallaj berkata seperti itu menunjukkan suatu bentuk pengakuan yang sangat tinggi terhadap Tuhan, sekaligus kerendahan hati yang sangat dalam bahwa manusia itu tidak ada apa-apanya. Tidak ada sesuatu pun yang eksis selain Tuhan. Manusia sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah Tuhan. Jika Tuhan ada dan manusia jg ada, berarti ada dua hal yang eksis. Adanya hal hal lain yang eksis diluar Tuhan berarti suatu ‘pelecehan’ terhadap eksistensi Tuhan. (rumit memang..)

Berangkat dari kesadaran seperti itu maka kemudian munculah kesimpulan ‘aku lah Tuhan’ dari Al-Hallaj. Tapi karena perkataannya ini dianggap syirik bahkan gila dan dapat meracuni masyarakat, maka akhirnya Al-Hallaj dihukum mati oleh Khalifah.

Seorang Sartre mengatakan bahwa tidak ada kekuasan di luar diri manusia, manusia sendiri lah yang berkuasa atas dirinya. Tidak ada kekuasaan Tuhan. Pemikiran ini kemudian dikenal dengan sebutan eksistensialisme. Seorang Nitsche agak mirip dengan Sartre, tapi lebih gila lagi, dia mengaku telah membunuh Tuhan. Luar biasa….

Masalah Tuhan dan pencariannya ini dapat kita rujukkan pada Nabi Musa, Nabi Musa pernah bertanya “Ya Allah, dimana aku harus mencari-Mu?”, lalu Allah menjawab, “Carilah Aku di antara orang-orang yang hancur hatinya”

Tuhan seperti ingin mengalihkan hasrat manusia untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan tempat,zat dan wujud Nya. Dia tidak menjawab lansung pertanyaan Nabi Musa, tapi justru malah ingin menunjukkan keberpihakan dan kecintaan Nya terhadap orang-orang yang hancur hatinya. Orang-orang yang ditimpa musibah, orang-orang yang dianiaya dan orang-orang yang tertindas adalah mereka-mereka yang hancur hatinya.

Bukan hanya itu, mereka-mereka yang digusur untuk proyek-proyek pembangunan, mereka yang dimiskinkan oleh sistem ekonomi, mereka yang dihina harkat kemanusiaannya, mereka yang dikalahkan walaupun benar, dan mereka-mereka yang dipinggirkan dalam partisipasi politik, adalah orang-orang yang hancur hatinya. Maka kesanalah seharusnya energi diarahkan.

Persoalan pencarian, pendekatan dan kecintaan kepada Tuhan, harus diterjemahkan kedalam bentuk pengabdian kepada kemanusiaan.

Dengan kata lain, gak usah urus Tuhan, tapi urus (misalnya) kemiskinan!!!

(Surabaya, 5 Des 01, habis sahur)

7 Comments

  1. Aufa : “Persoalan pencarian, pendekatan dan kecintaan kepada Tuhan, harus diterjemahkan kedalam bentuk pengabdian kepada kemanusiaan.”

    Dony : “Persoalan pencarian, pendekatan dan kecintaan kepada Tuhan, akan termanifestasikan dengan sendirinya kedalam bentuk pengabdian kepada kemanusiaan.”

    Aufa : “Dengan kata lain, gak usah urus Tuhan, tapi urus (misalnya) kemiskinan!!!”

    Dony : “Dengan kata lain, jika kita ‘mengurus’ Tuhan, maka urusan (misalnya) kemiskinan akan menjadi keniscayaan!!!”

    :)

  2. atau dengan kata lain, jadilah miskin dulu, baru ketemu tuhan :)

  3. kalo ada yang mencari tuhan dan menemukannya tolong ajak saya karna saya butuh tuhan kemarin, sekarang , dan yang akan datang

  4. Ke mana pun kamu menghadap, di situ muka Tuhan. Tuhan selalu ada bersama kita(bukan berarti Tuhan ada dimana-mana). Aku sebenarnya tidak tahu tapi entahlah aku merasa Tuhan selalu dekat denganku. Ketika aku sholat atau berdo’a dengan khusyu’ ku merasa ada Tuhan di hadapanku.

  5. sekedar menambahkan tentang penegasan keberadaan Tuhan di http://seremonia.net dengan judul THERE IS GOD, semoga bermanfaat

  6. Tuhan sangat dekat, lebih dekat dari urat kerongkongan dia Maha Welas Asih.Jika ingin melihat wajah Tuhan lihatlah ciptaan2nya yang mengisi seluruh alam raya,dimana kita menghadap disanalah wajah Tuhan,Tidak ada yang menyamaiNYA, jadi Tuhan bukanlah sesuatu yang dapat dibayangkan dan dirasakan seperti sebuah benda,orang-orang murtadlah dan orang kafirlah yang menyamakan Sang pencipta dengan ciptaanNYA,Tuhan telah memberi kita 2(dua)bekal kepada manusia disaat permulaan lahir menghirup udara, yaitu Keiklasan untuk menjalani hidup yang dibarengi dengan tangisan, terserah mana yang akan dipilih Ikhlas menjalani hidup yang telah digariskan atau terus penuh ketidak puasan dengan diiringi tangisan dan kegundahan.

  7. aku bertemu tuhanku setelah aku bertemu guruku.terima kasih yang dikasihi guruku Tuan Guru Ibrahim Bin Awang


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment