Aku ingin menyampaikan sehubungan dengan yang kukatakan kemarin, dengan yang melatar belakanginya dan hal2 seputar itu. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku sekarang. Bingung, senang, atau merasa bersalah. Tapi yang jelas aku lega.. Aku jg gak tahu bagaimana perasaan mu saat ini, apakah kaget, bingung, senang, kecewa, marah, atau biasa-biasa aja. Aku juga gak tahu ketika kamu membaca email ini, apakah sambil tersenyum diam-diam, atau cuma datar tanpa ekspresi, atau sambil tersenyum tapi dengan senyum pahit.
Aku gak tahu bagaimana pandanganmu terhadap ku sekarang ini. Apakah berubah atau tetap seperti dulu (Yang dulu aja aku gak tahu apalagi kalo memang berubah, semakin gak tahu).
Aku jadi sangat ingin menulis. Menulis sesuatu yang entah apa persisnya dan mau-nya kemana. Keinginan menulis hal seperti ini yang sebenarnya dari dulu kuniatkan. Tapi belum juga kulaksanakan karena masih terus kupikir-pikir, kutimbang-timbang, dan kutanyakan berkali-kali ke hatiku.
Bagiku hidup adalah semesta rahasia. Lahir, besar, tumbuh, muda, tua, mati datang silih berganti. Pergerakan dari satu titik ke titik yang lain, perpindahan dari satu waktu ke waktu yang lain. Berbagai peristiwa dan kejadian berlalu, berulang, berputar. Kadang saling mengkait, kadang saling bertentangan. Gembira, senang, sedih, murung, datang untuk kemudian pergi, pergi untuk kemudian datang lagi. Berjalan kadang naik kadang turun, kadang lurus, kadang berbelok, kadang mulus kadang terjal, kadang bertabur bunga kadang bersemak duri, yang tidak jarang tajamnya menggoreskan luka. Pernahkah merasakan ketika kita sedang senang, kita jg memendam kepedihan diam2? Pernah jg kah ketika sedih, terkurung oleh sunyi yang mengggit atau dihamtam oleh badai persoalan, justru kita merasakan bahagia?
Aneh memang, tapi begitulah kehidupan. Kehidupan yang ketika kita hanyut dalamnya, kita akan merasakan bagaimana dunia begitu berarti dan segala-galanya. Tapi setelah kita coba memaknainya kembali, maka dia menjadi tidak ada apa-apanya. Seperti yang pernah sempat kurasakan bahwa dunia tidak menarik lagi bagiku. Apa sih makna hidup?
Tapi pertanyaan diatas diralat oleh temanku, Bagaimana bikin hidup jadi bermakna? begitu seharusnya. Kehidupan dunia adalah kancah tempat kita bertarung, mengejar, meraih, dan menggapai. Karena dia adalah suatu kenyataan yang dulu tidak kita minta kedatangannya, dan juga tidak kita minta kepergiannya. Dia adalah gerak-gerak materi, yang patuh sama hukum-hukumnya. Hukum-hukum yang telah di sunnnah-kan. Hukum alam kata orang, atau sunnahtullah kata agama.
Ketika kita menjatuhkan benda dari atas, pasti dia akan jatuh ke bawah. Bisakah kita meminta agar benda itu tidak jatuh dengan minta kekuasaan Tuhan untuk menahannya? Tentu tidak, karena justru Tuhan telah menetapkan melalui hukum alamnya, bahwa karena adanya gaya grafitasi yang telah diciptakannya maka benda itu harus jatuh. Itulah hukum sebab akibat, hukum dialektika, yang Tuhan sendiri mengatakan tidak akan ada yang bisa merubah ketetapanNya.
Sudah menjadi hukum alam bahwa yang belajar akan pintar, yang ngebut di jalanan akan berpeluang untuk tambrakan, bila terkena api akan terbakar dan jika terkenan hujan akan kedinginan.
Tapi mengapa ada yang belajar tapi tidak pintar? Mengapa ada yang ngebut tapi selamat? Mengapa ada yang kehujanan tapi tidak kedinginan? Mengapa ada yang kena api tapi tidak terbakar? Jawabannya karena hukum alam juga, karena sunnatullah juga. Tapi hukum alam yang belum bisa dipecahkan oleh manusia. Hukum alam yang masih menjadi rahasia. Suatu rahasia yang blm kita mengerti bagaimana logikanya.
Coba jelaskan mengapa aku lahir dan mengapa kamu harus lahir? Mengapa aku ini terlahir sebagai laki-laki, bukan perempuan saja? Mengapa kamu terlahir sebagai perempuan dan bukan laki-laki saja? Mengapa ada orang yang ketika lahir sudah dalam keluarga miskin? Tapi ada yang lahir di tengah2 keluarga yang kaya raya? Apa kesalahan ruh yang ditiupkan ke tubuh manusia itu, sehingga dia harus lahir di tengah-tangah keluarga melarat? Apa kelebihan atau amalan pada ruh yang ditiupkan itu, sehingga dia terlahir di tengah-tengah keluarga yang kaya raya? Mengapa ada yang terlahir buta ke dunia? Mengapa ada yang terlahir cacat? Mengapa ada yang terlahir kembar tapi hanya dengan kepala dua, dada dua, tapi kaki cuma sepasang, sehingga seperti yang pernah kulihat di berita, sampai ketika mereka telah dewasa kemana-mana harus berdua, padahal yang satu laki yang satu perempuan?
Penyebabnya semuanya masih bisa dipecahkan oleh ilmu kedokteran. Tapi ilmu mana yang bisa menjelaskan mengapa ruh yang dipilih untuk ditiupkan ke calon manusia yang buta atau yang cacat itu adalah si A, bukan si B?
Sehingga agak mirip dengan contoh yang aku uraikan di atas, ketika seorang temanku yang sering dituduh komunis ditanya, ‘percaya gak kamu adanya Tuhan? Dia menjawab, aku sangat-sangat percaya”. Mengapa? Dia jawab, “karena begitu banyak kejadian yang aku gak ngerti logikanya”. Aku gak ngerti bagaimana logika Tuhan.” “Aku percaya karena banyak logika-Nya yang tidak aku mengerti”
Sebuah kepercayaan kerena ke-tidakmengerti-an. Unik. Tapi siapa tahu justru itulah pengertian yang paling dalam. Berdasarkan itu dia jg dia sangat percaya bahwa akhirat itu pasti ada, tempat semua penjelasan, dan tempat semua pembalasan’
Hal2 di atas baru soal materi, soal sesuatu yang masih bisa dilihat, didengar, dirasa, diketahui dan dibuktikan. Sedangkan hidup tidak hanya materi. Di dalam hidup juga ada ruh, jiwa, rasa, ide, pikiran, dan hal2 immaterial lainya, yang jauh lebih susah untuk dijelaskan logikanya.
Tapi tentang saat itu jangan tanyakan soal ‘rasa’ aku terhadapmu, karena memang aku tidak punya ‘rasa’apa-apa ketika itu. Namun tidak ada yang tetap di dunia ini, tidak ada yang abadi di hidup ini, semua berubah. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri.
Cukup singkat sebenarnya waktu dan intensitas yang pernah kulakukan yang berkaitan denganmu. Tapi semua kejadian, semua sikap, semua ucapan, semua peristiwa, ternyata tidak hilang begitu saja. Dia bukan sesuatu yang setelah berlalu lantas kemudian pergi. Tapi sesuatu yang betah berlama-lama di alam pikirku. Maka aku pun tak bisa membantah bahwa sebenarnya telah tumbuh ‘rasa’ dihatiku. Sesuatu yang tidak akan pernah persis bisa digambarkan
Sesuai hukum sebab akibat. Adalah memang wajar jika ada perkenalan dan hubungan, maka akan membuka peluang munculnya ‘rasa’. Jika ada sesuatu yang menarik perhatian, tentu tidak aneh jika kemudian muncul ‘rasa’.
Tapi mengapa tidak pada semua sebab akan melahirkan akibat yang sama? Bukankah aku juga berkenalan dan berhubungan dengan perempuan2 yang lain? Kenapa hal yang sama tidak terjadi? Bukankah pada perempuan-perempuan yang lain juga ada hal2 yang menarik?
Sampai ketika aku mulai sadar terjangkit virus ‘rasa’ itu, aku pun tidak bisa menghindar dari perasaan bersalah. Bagaimana tidak disalahkan kalo sesuatu yang awalnya dibangun di atas pondasi yang bernama persahabatan, yang bernama pertemanan, kemudian berubah karena sesuatu itu telah bergarak di luar batas-batas pondasinya? Yang dalam banyak kasus tidak jarang akan merusak pondasi itu sendiri? Dan bila pondasi itu rusak, maka akan robohlah bangunan diatasnya.
Namun siapa yang berkuasa menumbuhkan ‘rasa’ itu? Dalam berinteraksi siapa yang bisa kebal terhadap hal-hal diluar murni pemikiran, murni aktifitas pertemanan, murni diskusi yang hanya melibatkan rasio? Yang bebas dari nilai rasa?
Jika ’rasa’itu tumbuh pelan2 tanpa sadar dengan tidak disengaja, salahkah aku? Salahkah aku sedangkan aku tidak meminta dan tidak merancang sedemikan rupa, atau meransang faktor2 pertumbuhannya agar ‘rasa’ itu dapat tumbuh ?
Jika ilalang tumbuh karena hujan dan matahari, mengapa tidak ada yang menyalahkan hujan dan matahari?
Namun walaupun demikian, aku dulu belum berani juga jujur pada diri sendiri untuk mengatakan bahwa ‘rasa’ memang telah tumbuh. Namun waktu yang terus bergulir, dengan kedewasaan yang mudah-mudah semakin berkembang, kearifan menerima kenyataan, maka suatu waktu di dalam hati dengan jujur aku mengakui bahwa sebenarnya aku telah jatuh….aku telah jatuh hati… pada mu…
Aku mengakui apa adanya berdasarkan apa yang aku rasakan. Dari bayanganmu yang terus saja muncul, dari namamu yang tetap saja teringat, Dari wajahmu yang selalu saja terkenang. Dan dari peristiwa-peristiwa yang terus saja terlintas.
Aku harus mengakui dengan jujur pada dirimu dan pada diriku jg, bhw bahwa saat-saat bersamamu dulu itu, aku merasakan suatu kedamaian. Walaupun aku gak bisa menjelaskan seperti apa kedamaian itu.
Aku mengakui dengan jujur bahwa aku bangga jika berada disampingmu. Meskipun aku gak tahu kebanggaan model apa itu.
Aku mengakui dengan jujur bahwa aku merasakan dari dirimu ada pancaran cahaya yang begitu indah.. Ya kamu indah sekali…… Biarpun aku gak ngerti, apa sebenarnya keindahan itu.
Andai saja aku bisa merajut huruf dan menjalin kata untuk menerjamahkan segala tentangmu….. Sayang aku bukan pujangga
Tanpa maksud menjurumuskanmu dlm lembah kesombongan, maka aku pun harus katakan juga apa adanya bahwa kamu seseoarang yang memiliki karekter yang demikan kuat, yang belum aku temukan pada perempuan lain. Tapi karakter apa itu? Nah itu dia yang sulit digambarkan.
Andaikan aku punya sekarung butiran kata-kata yang bisa melukiskannnya….
Tapi sekali lagi, sayang aku bukan penyair..
Mungkin aku cuma terjebak ilusi sehingga tidak bisa lagi melihat mana yang baik dan mana yang buruk, semuanya jadi indah. Tidak, aku tidak menutup mata, semua orang pasti punya sisi buruknya, termasuk kamu, namun aku akan berproses belajar menerima itu.
Waktu berganti, musim berlalu. Dengan pikiran yang tenang, dengan emosi yang stabil, dengan akal yang masih berjalan. Aku coba memikirkan, ini harus bagaimana. Dengan segala pertimbangan coba menentukan apakah ‘rasa’ ini hanya akan aku pendam saja, atau (juga dengan segala pertimbangan) lebih baik aku sampaikan saja? Sempat terlintas, ya sudah.. lebih baik kependam saja. Anggap saja sebagai sebuah catatan manis di dalam dunia khayalku, yang aku bawa ke pojok-pojok lamunanku.
Tapi sampai kapan?
Sebagaimana yang pernah aku katakan kepadamu, tentang pikiran ku yang sedang ruwet. Nah salah satu dari kompleksitas keruwetan itu sebenarnya juga masalah ini. Tapi tentu saja aku tidak bilang padamu saat itu. Namun Jika persoalan ini aku biarkan berlarut-larut, maka mungkin menjadi penyakit dalam diriku. Bagaimana tidak jadi penyakit, setiap ada sms, aku berharap sms itu dari kamu. (Tapi sering malah bukan. Tapi jika pas aku gak berpikiran sama sekali, eh justru sms dari kamu) Bagaimana tidak menjadi persoalan ketika, jika setiap berbicara tentang perempuan, yang lansung hadir di benak adalah kamu? Bagaimana aku tidak terpenjara, sekali lagi, bayang-bayangmu selalu mengikutiku?
Aku tidak mau lari dari kenyataan. Masalah harus dihadapi, bukan melarikan diri darinya. Kontradiksi-kontradiksi harus dilesaikan agar bisa bergerak menuju bentuk yang lebih baik. Apakah akan terus aku nikmati penyiksaan ini?
Nah seperti yang terjadi kemudian, aku pun akhirnya sampaikan jg rasa itu kepadamu… Itu tidak spontan, tidak emosianal. Aku sudah timbang-timbang (cukup lama), aku sudah pikir dalam-dalam, dan aku sudah sharing dengan orang lain,. Aku tahu baik buruknya. Aku sudah perkirakan dari yang paling baik sampai yang paling buruk. Aku sudah siap dengan segala akibat dan resiko. Mungkin apa yang aku lakukan suatu kekonyolan yang paling goblok yang pernah aku lakukan. Atau suatu kebodohan yang paling dungu yang pernah kukerjakan. Bisa juga suatu ego yang paling egois yang pernah kuperlihatkan. Malah mungkin apa yang aku lakukan adalah suatu bentuk tindakan yang paling tidak bertanggung jawab.
Bagiku persoalan ini memang berat dan sangat berarti, tapi mungkin bagimu hal2 seperti ini tidak ada istimewanya, hal yang sudah sangat biasa. Mungkin sudah terlalu banyak yang pernah mengungkapkan isi hatinya padamu. Atau sudah begitu banyak yang memuji-mu dengan lebih tulus…
Sekarang aku tidak tahu kamu harus bagaimana. Lagi pula bukan aku yang menentukan kamu harus bagaimana. Tapi aku hanya berharap dengan segala kerendahan hati agar kamu menghadapi ini dengan jiwa besar dan segala kearifan. Aku berani melakukan ini karena berangkat dari suatu keyakinan bahwa jiwa besar dan kearifanmu itu membuat hal ini bukanlah suatu masalah bagimu. Jika pun kemudian menjadi masalah, aku yakin kamu bisa mengatasinya.
Aku memang katakan bahwa aku tidak mendesak butuh jawaban, tapi bukan berarti kamu tidak akan bereaksi, Karena tidak mungkin aksi tanpa melahirkan reaksi.Setiap ada aksi pasti ada reaksi, seperti yang dulu pernah kita pelajari dlm pelajaran fisika. Persoalannya apakah reaksi itu disampaikan kepadaku atau tidak. Ya terserah padamu. Jadi silakan kamu berkomentar apa aja, karena aku tidak mungkin melarang.
Memang apa yang aku sampaikan di atas tidak bisa menggambarkan semuanya. Yang jelas aku ingin menuntaskan persoalan ini, karena sebenarnya cukup dalam kegetiran yang kurasakan…ya cukup getir..
Aku berharap kamu bisa membantuku menemukan jalan terbaik. Suatu penyelesaian yang dilandasi jiwa besar, kerendahan hati dan kearifan, yang mungkin tidak ada pada diriku tapi aku yakin ada pada dirimu. Karena kuakui dari sisi ku sendiri ada sesuatu yang mengganjal yang, membuat aku tidak tuntas terhadapmu.
Karena itu…
Jika memang kamu harus menasehatiku panjang lebar sebagai cara terbaik, maka nasehatilah aku.
Jika perlu menanyakan dan mendiskusikannya denganku, adalah cara yang yang terbaik menurutumu, maka tanyakanlah.
Jika memang harus melakukan sesuatu dengan cara tidak melakukan apapun atau diam, maka diam-lah.
Tapi jika kamu mau menerima, maka tak sanggup aku membayangkan apa jadinya…
Walaupun kamu tahu aku tidak sedang tergesa-gesa, tapi kalo menurutmu aku tetap perlu diberi suatu jawaban segera, karena menurutmu jawaban itu memang dapat menyelesaikan persoalan ini secara tuntas, maka jawablah. Walaupun mungkin akan terasa sakit olehku. Tapi mudah2an sebentar. Ibarat tumor yang harus dioperasi, sakit sebentar gak masalah.
Atau jika lembaran catatan hubunganku dengan mu terpaksa harus segera ditutup, dengan kondisi seperti ini, sebagai jalan terbaik menurutmu, maka lakukanlah. Aku akan menerima dengan maaf dan terimakasih yang dalam.
Lakukanlah yang terbaik menurutmu,apapun itu, karena aku sudah terlanjur percaya padamu…
Mohom maaf jika aku telah menyeretmu ke dalam masalah ku dan mungkin menyebabkanmu dalam situasi sulit… Tapi mudah-mudahan tidak. Seperti yang telah kuuraikan di atas, bagaimana aku bisa menjelaskan, seseoarang yang saat pertama kali kulihat langsung kunilai sombong, tapi sekarang justru aku kepadanya seperti seorang rakyat biasa yang sedang menghadap ke tuan putri. Namun walaupun dia itu hanya rakyat rakyat biasa, tetap saja punya harga diri. Tapi seandainya yang namanya harga diri itu boleh ditekan atau dibunuh, maka si rakyat biasa itu akan melakukannya, dengan bersimpuh dihadapan sang putri. Tapi untung saja manusia dilarang bersimpuh kepada manusia. Sehingga rakyat biasa tadi pun tetap berdiri tegak dengan kepala yang tidak ditundukkan, walaupun mungkin butuh kekuatan untuk berani lagi menatap mata sang putri.
Surabaya, Des 2002


