Lantas kenapa? Apakah ini semacam kebosanan terhadap bencana? Atau karena terlalu seringnya berita kecalakaan dan bencana membuat stok rasa simpati semakin menipis karena harus didstribusikan kepada sedemikian banyak peristiwa?
Hari pada saat kejadian gempa pun aku masih agak enggan mengikuti berita. Hanya my lovely brother Iin pagi-pagi bilang ‘Bang, ada gempa di Sumbar’. Tapi kupikir, ‘ya Sumbar memang daerah yang rawan gempa, jadi berita tanah longsor,pohon tumbang, sudah bukan lagi ‘berita”.
Namun meskipun begitu aku tetap lansung cek ke rumah di Pekanbaru:
“Disini aman, walaupun tadi sampai berhamburan keluar rumah”.
Begitu jg aku cek teman2 di Padang:
“Padang aman, tapi banyak jg bangunan yg rusak”Sukurlah, berarti aman-aman aja.
Selebihnya aku cuek aja…Sampai kemudian serangan bertubi-tubi dari berita televisi tentang gempa di Sumbar menghantam kesadaranku hingga akhrinya aku terjerambab pada ke-kecil-an dan kebisuan. Ya..,malam hari aku menyengajakan diri menonton tv untuk liat berita. Itu pun setelah sempat diprovokasi oleh Ujie “Lihat berita donk pak!”
Ternyata kerusakaan akibat gempa terjadi dimana-mana dan merenggut banyak korban jiwa. Bahkan saking kerasnya gempa, getarannya dirasakan sampai ke Pekanbaru, Jambi, Singapura dan Malaysia. Aku pun cek untuk kedua kalinya, dan aku terkejut mendapatkan rentetan informasi berikut:
Sodara-sodara di Payakumbuh aman, cuma di kampung ayahku orang-orang tidur di luar rumah.
Rumah kakaknya Jecky di Payakumbuh roboh, sehingga Jecky mesti mempercepat jadwalnya kepulangannya ke Pekanbaru.
Rumah neneknya Adi Firman di Bukittinggi roboh, sehingga adi pulang jg ke Pekanbaru. Adi bahkan mengajakku untuk pulang bareng.
Rumah si Kanur di Padang Panjang roboh Rumah Si Adi Badul di Guguak Payakumbuh roboh RUmah Si Mamak di Sungai Tanang Roboh.Oh!!!
Rumah-rumah tempat mereka berteduh telah hancur. Dan itu terjadi pada orang-orang terdekat.Bencana bukan cuma makin sering terjadi, tetapi terasa juga seperti mendekat menghampiri.Aku tidak tahu harus komentar apa lagi. Semua informasi derita itu hanya aku endapkan pada tempat yang paling dalam. Otak ini rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk mengolah banyaknya informasi bencana dan menguraikan nya satu persatu menjadi sebuah formula yang paling pas untuk merespon setiap kejadian.
Aku ikut berduka cita untuk semua orang-orang yang ditimpa bencana…Semoga semua menjadi lebih baik, karena pasti tidak ada yang sia-sia.Dan semoga jg bencana itu tidak semakin mendekat, untuk memaksaku menyelami kondisi sesama dan terus memproduksi rasa simpati.
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment


