Kehidupan Macam Apa Ini…(2)

kumuh.jpg

Tanpa sadar gerak manusia dituntun untuk mengikuti gelombang besar ini, yang seolah tidak memberi alternatif untuk dapat memilih yang lain. Gelombang ini menyeret sisi-sisi kesadaran ke arah kekosongan tanpa makna dan tanpa nilai. Nilai-nilai hanya tinggal kata-kata yang keluar dari mulut para, para orang tua dan para guru, yang kemudian menguap ke angkasa tanpa bekas. Kebutuhan-kebutuhan manusia tentang keadilan, persamaan, cinta kasih, dan variabel-variabel di seputar kebahagian, mungkin hanya tinggal di rumah-rumah, di kost-kostan, di lingkungan keluarga, diantara teman, dengan kekasih atau di komunitas-komunitas kecil dimana berada.

Di tempat-tempat publik, dia menjadi suatu hal yang ganjil, berganti dengan perasaan was-was, ketakutan, dan curiga. Di jalan-jalan yang terlihat adalah wajah-wajah serius, tegang dan tidak bersahabat. Relasi antara seseorang dengan orang lainnya hanya dibatasi oleh fungsi untung rugi. Di dalam pertarungan bisnis dan politik, nilai-nilai itu ibarat Noise yang harus ditekan sedemikian rupa untuk memperoleh nilai Signal to Noise yang besar.

Semua orang seperti orang yang dikejar-kejar. Di bangku-bangku kuliah mahasiswa dikejar-kejar untuk mendapatkan nilai tinggi dan dosen-dosen juga asyik mengejar-ngejar proyek, Di kantor2, para karyawan dikejar2 oleh target-target produksi perusahaan. Di jalanan angkutan kota berkejar-kejaran mengejar setoran. Kebanyakan manusia dikejar-kejar oleh tuntutan situasi untuk dapat bertahan hidup. Namun ada juga yang dikejar-kejar untuk mengakumulasi pundi-pundinya, sehingga semua harus dikuasai, dari hulu sampai ke hilir, mulai dari perbankan, pabrik mobil sampai mie instan,

Kemajuan yang dicapai ternyata tidak mampu menggandeng semua orang untuk sama-sama maju. Tapi justru menghasilkan kontradiksi-kontradiksi yang begitu nyata didepan mata. Di kota-kota besar seperti akarta,banyak gedung-gedung pencakar langit, tapi di belakang gedung-gedung pencakar langit tsb terdapat perkampungan-perkampungan kumuh di pinggir kali yang hanya tinggal menunggu waktu untuk digusur karena dianggap menggangu pemandangan jika ada tamu negara yang datang.

Di pinggir jalan para pedagang kaki lima mesti selalu waspada, karena sewaktu-waktu petugas ketertiban bisa saja membongkar dagangan mereka dengan alasan membuat kota menjadi tidak indah. Padahal bagi pedagang justru pembongkaran itu yang membuat hidup mereka menjadi tidak indah.

Kontradiksi juga bisa lihat di rumah-rumah kecil, di balai desa dan digubuk-gubuk yang kebetulan mampu memiliki tv. Orang-orang menonton sinetron-sinetron yang tidak henti-hentinya memamerkan kemewahan dan keglamouran, seoalah-olah tidak bisa membuat cerita yang lain tanpa rumah mewah, mobil mercy dan wanita cantik. Sementara bagi banyak penonton, sinetron tersebut bagaikan melihat suatu dunia lain, yang entah kapan bisa digapai. Belum lagi iklan-iklan di televisi yang tidak pernah bosan menggoda, walaupun yang dibeli kemudian nanti bukanlah nilai guna barang, tapi nilai gengsi. Sedangkan bagi yang tidak mampu ia hanya tinggal mimpi-mimpi di sepanjang hari. Atau menjadi bahan lelucon bagi anak-anak untuk ditiru tingkah polah bintang iklannya.

Lalu bagaimana aktor aktor elit politik dalam memainkan drama di panggung politik negara Indonesia? Ternyata bukan saja skenario yang mereka susun tidak menarik, tapi aktingnya sendiri juga sangat memuakkan. Lalu drama politik ini kemudian direkam oleh berbagai media untuk jadi bahan tontontan bagi sekian juta rakyat. Bagi si aktor dia perlu menambah terus kepopulerannya walaupun harus dengan cara berkelahi di Sidang MPR. Bagi media, semakin lucu akting para aktor akan semakin menambah oplah penjualannya. Namun bagi rakyat, sang penonton dan pemilik panggung sebenarnya, pergelaran drama politik tersebut tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap perubahan nasib ke arah yang lebih baik. Malah sebaliknya, drama yang dimainkan aktor-aktor di gedung perlemen diterjemahkan menjadi drama-drama horror, kekerasan, kerusuhan dan teror, yang benar-benar terjadi dalam realitas kehidupan nyata sehari-hari para penonton.

Surabaya, di kantor Dony,11 Nov ‘01,dinihari.

1 Comment

  1. Tidak sia2 dulu aku ‘korupsi’ dengan minjemin komputer/internet di kantor aku buat kamu. Akhirnya kamu bisa bikin tulisan yang berbobot… heheheh😀


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s