Tetap jadi anak kecil…

tetap-anak-kecil.PNG

Menarik kisah yang disampaikan Mardun tentang ortu nya yang tidak percaya sama dia. Begitu jg tulisan Nelly yang walaupun sulit dibaca:) tapi kira2 aku paham maksudnya.

Ya memang begitu kenyataannya, orangtua terutama ibu tidak peduli apakah anaknya sudah besar atau masih kecil, dia tetap saja menganggap ‘anak kecil’. Walau sudah kuliah, bekerja, nikah, atau sudah menjadi ‘orang’, namun bagi seorang ibu tetap saja yang namanya soal kesehatan, soal makan, sampai soal baju anaknya yang belum di-setrika jadi perhatian serius. Bagi yang sudah berkeluarga atau punya pembantu pun, tetap gak bisa menghalangi sepak terjang seorang ibu.

Jangan heran bila seorang ibu akan bangun tengah malam hanya untuk mengecek, apakah anaknya udah pulang atau blm atau apakah anaknya tidur digigit nyamuk atau tidak. Tidak peduli anaknya itu sudah bukan anak-anak lagi. Tidak peduli juga walaupun hatinya baru saja tersakiti karena omongan kasar anaknya malam itu

Seorang karyawan, dosen, pejabat, seniman, politikus, artis, pengusaha, jika sudah berhadapan dengan ibunya, maka hilang semua embel2 ‘kebesarannya’. Boleh saja dirinya selama ini dianggap sebagai orang hebat yang berpengaruh dimana-dimana. Tapi ketika sudah berhadapan dengan ibunya, maka dia pun menjadi ciut, kecil, tak kuasa, luluh..

Ketika aksi demontrasi dengan gagah perkasa seorang mahasiswa berorasi di depan ribuan massa, solah-olah ingin menceramahi semua orang, bahkan kalau bisa presiden pun akan diceramahinya. Berbicara korupsi, menajemen pengelolaan negara, praktek2 pelangaran HAM, kapitalisme global, ekonomi kerakyatan, politik emansipatoris, hegemoni negara, dan kata2 dalam bahasa langit lainnya. Tetapi ketika berhadapan dengan ibunya, tetap saja si mahasiswa tadi diomelin soal bangun pagi yang terus kesiangan, soal makan yang tidak teratur, uang jajan yang harus dihemat dan soal2 lain yang kesannya ‘sepele’ dibandingkan misalnya dengan ‘membangun kesadaran politik rakyat”…

Seorang menejer di perusahaan demikian berwibawanya memberi pengarahan kepada karyawannya tentang produktifas kerja, terget2 pemasaran, ekspektasi perusahaan dan budaya kerja yang harus dibangun. Tetapi ketika berhadapan dengan ibunya, tetap saja diingatin agar jaga kesehatan, jangan terlalu gila kerja, bantu adik-adik, dan soal2 lain yang kesannya ‘remeh temeh’ dibandingkan misalnya dengan “strategi perusahan dalam memenangkan kompetisi global”

Ya begitulah seorang ibu, apapun dilakukannya untuk anaknya. Tak peduli apapun yang menghalangi. Di tengah sedemikian besar jasa seroang ibu, ada saja anak protes.”Lho itu-kan memang sudah kewajiban sebagai seorang ibu dan hak ku sebagai anak? Si Ibu bilang “ Apa masih terlintas dalam pikiranku tentang hak dan kewajiban,?” Tidak ada Surga pun aku tetap melakukan ini untukmu..

8 Comments

  1. Bener banget Fa !

    Seumur hidup aku kenal sama kamu, baru sekarang aku yakin banget bahwa kamu bener! hahahahha

    Omong-omong soal Ibu, ini yang paling bener dari semua kebeneran (bukan kebetulan) yang ada dalam kebeneran tulisan kamu :
    “Apa masih terlintas dalam pikiranku tentang hak dan kewajiban,?” Tidak ada Surga pun aku tetap melakukan ini untukmu..”

    Mantapzz…..🙂

  2. paragraf terakhir maksudnya apa ya? kurang mudeng nih

  3. Hmm, sedang tidak ingin komentar serius. Tapi tak perhatiin yang menarik dari blog ini, si empunya sangat serius dalam memilih pic agar -dan memang- sesuai dan mencerminkan isi tulisan. hehehehe meskipun gambarnya kecil-keciiil. ‘:mrgreen:’

  4. :mrgreen: test

  5. Untuk mardun, maksud paragraf terakhir adalah meski demikian besar jasa seorang ibu,tetap saja ada anak yang gak bisa menghargai.
    Tapi dun, sebenarnya tulisan di atas itu kuambil dari tulisanku yang sangat panjang,karena terlalu panjang jadi tak potong aja,lalu cuplik paragraf terakhir.Akhirnya paragraf terakhir itu jadi rada gak nyambung dengan dari paragraf2 sebelumnya. Paragraf terakhir itu juga tidak merujuk pada tulisan mardun.

  6. ahirnya aku punya alasan yang kuat untuk ninggalil comment, keren juga neh, bisa dapat versi panjang tulisannya ga..?

  7. as charlie chaplin said :

    “without mother u’ll be nothing”…btw endi tulisanku sing gak iso mbok woco fa…perasaan pake bahasa indonesia semua…hehehe…

  8. Wah…keren jg tulisannya, tp btw tulisan asli nya bisa aku minta ga?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s