Sakit Jiwa!

sakitjiwa.jpg

Hmmm, sudah di bandung lagi, kota yang membuat kemalesan mencapai titik puncaknya. Apalagi dalam keadaan musim hujan begini. Tidak ada aktifiitas lain yang lebih menarik selain menarik selimut di atas kasur…Masih teringat kawan2 yang baru ditemui di Surabaya. Si Blek yang semakin sering mengekspresikan rasa syukurnya lewat kata2 cuk,asu,dan sebangsanya. Namun sekarang keliatan lebih nyantai. ‘Susah atau senang itu kan cuma persepsi’ begitu petuahnya.

Atau Ndemo yang tetap saja seperti orang resah yang teriak2 di tengah2 keramaian,menunjukkan kegelisahan dan concernnya terhadap pergerakan,padahal sudah kubilang apa yang dikatakan Kahlil Gibran ” anak mu bukanlah anakmu, tapi anak zamanya’. Maka wajarlah ketika dia ngajak ngomong hal-hal yang berbau ‘gerakan’,dijawab oleh para ABG dengan “..Caa pek deh….”

Ada juga Mario yang cool,tapi seperti memendam kegelisahaan diam-diam. Maklum dia bersiap2 untuk terjun ku dunia yang sebenarnya. Jakarta menjadi targetnya. Ada Emil yang sepertinya cukup establish bekerja di sebuah kontraktor. Atau si Sadar yang masih seperti saat bertemu sekitar 5-6 tahun yang lalu dan Lucky yang semakin ‘istimewa’.

Demikian jg Anjas yang sejak menjadi pengantin baru keliatan lebih tegap dan murah mengumbar senyum. ‘ Tiga kali sehari’ , begitu katanya🙂

Ada jg beberapa teman2 baru seperti si Mujib, yang baiknya gak ketulungan namun pernyataan cukup menghentak ketika dia bilang ‘ Tuhan adalah orientasi hidup” . Atau si Feri, seorang kepala bagian di sebuah perusahaan besar yang curhat karena merasa “jabatan manejer tapi gaji kuli”.

Tentu tak ketinggalan si Anjar, meski badannya sekarang ini menggambarkan sedkit kemapanan,tapi sorot matanya tetap menunjukkan kebersahajaan, kejujuran dan solidaritas.

Sementara itu si Dony mungkin sudah bisa lega menyelesaikan urusan tetek bengek nya di ITS. Tapi mungkin dia masih sulit percaya,bahwa di negera lain KULIAH ITU TIDAK BAYAR,tapi di negaranya ini justru TIDAK KULIAH TAPI BAYAR. Aku pikir si Dony ini perlu diingatkan oleh si Wawan yang mengaku sedang di Swiss, Dony mesti sadar bahwa dia tinggal Indonesia, dimana akal sehat dan hati nurani harus tunduk kepada prosedural birokrasi.

Bayangkan 2.5 Juta! harga yang harus disetor hanya karena persoalan administrasi kepada kampus yang berperilaku lebih mirip tengkulak yang memeras daripada sebuah lembaga pendidikan.

Sakit Jiwa…!

Tapi ada satu hal yang berubah. Kantin. Ya.. kantin pusat ITS. Tempat yang dulu lebih sering aku kunjungi daripada kelas kuliah. Dulu ketika berada di kantin ini, terasa aroma gejolak anak-anak muda. Komplet, Mulai dari sekedar tempat makan, nongkrong,nonton tv, pacaran, main bridge, ngerjain tugas, diskusi, pergelaran musik, sampai mobilisasi massa untuk ‘merobohkan setan yang berdiri mengangkang” ada semua.

Tapi sekarang aroma itu tidak lagi terasa.Sepertinya sudah tergusur oleh kolaborasi penguasa dan pengusaha di ITS. Sekarang area2 yang dulu jadi kekuasaan mahasiswa telah berpindah tangan sebagian ke BNI yang melebarkan sayapnya. Panggung kecil tempat untuk mengekpresikan kegelisahan,sekarang jg sudah berganti menjadi warung akibat penataan birokrat yang bikin sakit mata melihatnya.

Apa tdk ada perlawanan sama sekali dari kawan2 mahasiswa? ‘Mbuh!’ jawab Blek.

Kembali ke Bandung, udara yang memang sudah dingin ditambah lagi hujan terus sepanjang hari, benar2 membuat enggan untuk keluar rumah. Apalagi di luar rasanya semakin banyak daging daging montok berkeliaran. Yang hanya akan membuat intensitas ke kamar mandi menjadi lebih tinggi🙂

6 Comments

  1. masih ada kok fungsi2xnya mas, tapi cuma hari tertentu aja😛

  2. Mana yang lebih goblok? Superman atau Batman?

    Kalau Superman goblok karena pake sempak diluar. Kalau Batman goblok karena punya sayap tapi gak bisa terbang. Tapi Robin lebih goblok lagi, karena sudah jelas Batman goblok, tapi masih diikutin.

    ITS emang sakit jiwa, gak kuliah tapi tetep bayar. Aku lebih sakit jiwa, karena kuliah di kampus yang sakit jiwa.

    Kamu lebih sakit jiwa…. Karena mau aja berteman sama aku yang sakit jiwa hehehehe

  3. fa sori kemrn oleh2 nya🙂
    sakit jiwa sih sakit jiwa tapi memang dony nya aja yg lagi berbaik hati 2x 2.5 jt demi … :))

  4. don…makanya bawa parang…
    cekno ga bayar 2,5 jt hehe
    negara nih sakit jiwa?dari dulu fa….baru nyadar koen?ng ndi ae koen iku?:)

  5. Kadang kesadaran itu baru muncul setelah peroalan benar2 telah menyentuh kulit ari, hehehe

  6. layaknya cardiac paling fundus berdenyut involunter, begitu beritmik mengejar ribuan antigen yang siap termakan oleh bala makrofag,
    di setiap sebasea yang muncul di kepala…
    di saat stratum corneum meninggalkan tainya,,
    atau di saat ruang bowman berikan ultrafiltrat untuk jorok-jorok bikonkav
    pada semuanya medulla spinallis menjadi sang jenderal
    di naungi oleh cerebrum,cerebellum, diensefalon, dan tentu saja amigdala yg kerap membuat orang sering berkata….aku jatuh cinta….aku sebell sama dia…uuh dasar dosen yang nyebelin…..ih aku kan malu ketemu sama orang tua kamu…emang kamu ga penasaran buat buka celana di depan downlineku…
    atau mungkin sekali lagi secara involunter berucap :

    “indonesia tanah gersangku
    tanah tumpah nanahku
    di sanalah aku berdiri
    jadi momok untuk para momok-momok yang sok momok…..”


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s