Terasa semakin dekat..

Aku akui, meski berbagai kejadian malapateka menimpa negeri ini, namun pikiran dan perasaanku sudah ‘kebal’. Tidak ada lagi ke-terkejut-an yang spontan. Tidak ada jg ke-terenyuh-an yang dalam. Semua biasa aja. Tidak ada yang lagi yang terasa luar biasa. Apakah hal ini karena sense itu yang sudah berkurang? Seorang bijak berkata, ‘hati-hati dengan keadaan mapan dan kemewahan, karena hal itu akan dapat membuat sense terhadap penderitaan orang lain bisa hilang”.Tapi aku merasa tidak dalam keadaan mapan neh,apalagi mewah. Justru aku berada pada titik yang paling kere sekarang🙂

Lantas kenapa? Apakah ini semacam kebosanan terhadap bencana? Atau karena terlalu seringnya berita kecalakaan dan bencana membuat stok rasa simpati semakin menipis karena harus didstribusikan kepada sedemikian banyak peristiwa?

Hari pada saat kejadian gempa pun aku masih agak enggan mengikuti berita. Hanya my lovely brother Iin pagi-pagi bilang ‘Bang, ada gempa di Sumbar’. Tapi kupikir, ‘ya Sumbar memang daerah yang rawan gempa, jadi berita tanah longsor,pohon tumbang, sudah bukan lagi ‘berita”.

Namun meskipun begitu aku tetap lansung cek ke rumah di Pekanbaru:
“Disini aman, walaupun tadi sampai berhamburan keluar rumah”.

Begitu jg aku cek teman2 di Padang:
“Padang aman, tapi banyak jg bangunan yg rusak”Sukurlah, berarti aman-aman aja.

Selebihnya aku cuek aja…Sampai kemudian serangan bertubi-tubi dari berita televisi tentang gempa di Sumbar menghantam kesadaranku hingga akhrinya aku terjerambab pada ke-kecil-an dan kebisuan. Ya..,malam hari aku menyengajakan diri menonton tv untuk liat berita. Itu pun setelah sempat diprovokasi oleh Ujie “Lihat berita donk pak!”

Ternyata kerusakaan akibat gempa terjadi dimana-mana dan merenggut banyak korban jiwa. Bahkan saking kerasnya gempa, getarannya dirasakan sampai ke Pekanbaru, Jambi, Singapura dan Malaysia. Aku pun cek untuk kedua kalinya, dan aku terkejut mendapatkan rentetan informasi berikut:

Sodara-sodara di Payakumbuh aman, cuma di kampung ayahku orang-orang tidur di luar rumah.
Rumah kakaknya Jecky di Payakumbuh roboh, sehingga Jecky mesti mempercepat jadwalnya kepulangannya ke Pekanbaru.
Rumah neneknya Adi Firman di Bukittinggi roboh, sehingga adi pulang jg ke Pekanbaru. Adi bahkan mengajakku untuk pulang bareng.
Rumah si Kanur di Padang Panjang roboh Rumah Si Adi Badul di Guguak Payakumbuh roboh RUmah Si Mamak di Sungai Tanang Roboh.Oh!!!

Rumah-rumah tempat mereka berteduh telah hancur. Dan itu terjadi pada orang-orang terdekat.Bencana bukan cuma makin sering terjadi, tetapi terasa juga seperti mendekat menghampiri.Aku tidak tahu harus komentar apa lagi. Semua informasi derita itu hanya aku endapkan pada tempat yang paling dalam. Otak ini rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk mengolah banyaknya informasi bencana dan menguraikan nya satu persatu menjadi sebuah formula yang paling pas untuk merespon setiap kejadian.

Aku ikut berduka cita untuk semua orang-orang yang ditimpa bencana…Semoga semua menjadi lebih baik, karena pasti tidak ada yang sia-sia.Dan semoga jg bencana itu tidak semakin mendekat, untuk memaksaku menyelami kondisi sesama dan terus memproduksi rasa simpati.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s