Kematian

makam.jpg

Aku memanggilnya Pak Etek. Dia adik ayahku. Siang itu sebelum jumat dia berpesan pd seorang keponakannya yang juga sepupuku, “Tolong jemput Mila sekolah, Pak Etek mau pergi”. Kalimat itulah yang terus terngiang2 di telinga sepupuku itu, karena ternyata kemudian setelah itu Pak Etek benar-benar pergi, untuk selamanya. Dan yg lebih mengagetkan lagi dia pergi dengan cara yang tidak biasa.

Sekitar 1 jam kemudian berita itu sampai ke rumahku melalui telpon. Ayahku yg menerima telpon langsung terdiam, ibuku terperangah dan aku bengong, karena memang seolah-olah tidak percaya. Pak Etek ku masih muda, umurnya baru 43 tahun. Selama ini dia selalu semangat, enerjik, murah senyum dan suka becanda. Dia dekat dengan siapa aja, orang-orang mengenalnya sebagai pribadi yang menyenangkan. Walaupun setengah tahun yang lalu pernah masuk rumah sakit, tapi setelah itu dia kelihatan sehat dan bugar. Bahkan di perusahaan tempat dia bekerja dia sedang memasuki masa-masa keemasannya. Sehingga berita kematian ini benar2 seperti petir di siang bolong. Apalagi dia meninggal di saat membaca kotbah jumat…

Memori kolektif keluarga di rumah langsung kembali ke masa sekitar 20 tahun yang lalu. Pak Odang (kakak ayahku ) juga pergi dengan cara yg sama. Di saat menjadi khatib ceramah khotbah Jumat. Sekarang peristiwa itu terulang kembali. Aku hanya memandang ayahku yang keliatan tabah, tak sanggup aku menelusuri apa yg ada di benaknya. Dulu abangnya, sekarang adiknya, dengan cara yang sama.

Memori kolektif keluarga jg lansung teringat anak-anak Pak Etek. Anaknya 2 orang masih kecil-kecil. Yang satu Mila kelas 6 SD dan satu lagi Taqi yang masih TK. Mereka benar-benar sangat dekat dengan ayahnya. Berkali-kali dulu Pak Etek jika mampir di Pekanbaru minta temanin aku mencari buku, mainan atau apa saja. Untuk Mila atau untuk Taqi.

Tak sempat berlama-lama berpaku. Telpon dan semua hp dikerahkan untuk menyebar berita. Mulai dari Pekanbaru, Payakumbuh, Padang, Jakarta, sampai ke Jerman. Telp, sms, bunyi dering, silih berganti, sambil mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan dari Pekanbaru ke Payakumbuh (sekitar 2 jam dari kota Padang). My lovely sister Dian jg terpaksa pulang buru-buru dari kantor lebih cepat dari biasanya. Padahal hari itu hari terakhir dia bekerja, mengundurkan diri dari kantor karena diterima beasiswa kuliah ke Inggris. Setelah semua siap, kami berangkat dan 6 jam kemudian sampai di rumah duka.

Kulihat tubuh Pak Etek terbujur di pembaringan. Layaknya orang tidur biasa, malah wajahnya seolah tersenyum. Dia seperti masih ada, tapi bukan disini bersama kita. Baru kali ini aku menyentuh dan mencium mayat. Baru tahu juga aku bahwa tubuh mayat itu ternyata dingin. Pikiran ku terbang mengangkasa, tidak lagi berpijak di bumi. Sampai perlahan2 kurasakan mataku basah.

Kulihat sekeliling, ada isak tangis di beberap sudut. Nenekku jg terlihat sedang terisak-isak. Nenek itu sudah berumur kurang beberapa tahun dari 90 tahun. Tapi dia masih kuat. Masih jalan kesana kesini dan bekerja ini itu. Kemarin rencananya dia mau berangkat ke Bangko Jambi, ke rumah Pak Etek. (Sekitar 7 jam dari Payakumbuh). Dia sudah mempersiapkan rendang, ikan dan berbagai macam makanan untuk dibawa ke tempat anak bungsu kesayangannya itu. Namun ternyata jenazah si bungsu sudah lebih dulu datang duluan sebelum dia sempat berangkat menemuinya di Bangko.

Nenek seorang yang sangat tegar. Mungkin cuma nenek, orang yang aku tahu (diluar orang kejadian luar biasa seperti bencana), yang mengalami sedemikian banyak kematian dalam hidupnya. Sebagai anak dia sudah merasakan kematian ayah dan ibu. Sebagai saudara dia jg pernah merasakan kematian kakak dan adik. Sebagai seorang istri dia jg pernah merasakan kematian suami. Sebagai seorang ibu dia jg sudah mengalami kematian anak dan sebagai seorang nenek dia jg sudah pernah merasakan kematian cucu. Sekarang dia merasakan lagi kematian anak. Anak bungsu yang paling dia sayangi.

Kuhampiri dan kupeluk nenek dengar erat. Sambil menangis terdengar dia berucap pelan. “Mila.., tolong Mila”. Dia kawatir dengan cucunya Mila. (Nenek memang sangat perhatian dan sayang sama cucu-cucunya. Aku teringat bagaimana dia pernah ‘memarahi’ ayahku. Karena menurut nenek, ayahku santai-santai aja melihat aku yang sudah lulus kuliah tapi tidak bekerja di perusahaan, malah usaha ini usaha itu, jualan ini jualan itu. Tidak menunjukkan sebuah kesuksesan seorang sarjana, begitu kali kira2 pikiran nenek. Namun apapun lah, itu menunjukkan tingkat perhatiannya yg sangat tinggi)

Sementara kulihat Mila yang duduk disamping Nenek hanya diam. Matanya masih menyisakan merah tanda habis menangis. Dia masih kelas 6 SD, tapi kali ini kulihat dia seperti orang dewasa. Jauh jauh lebih dewasa dari pada usianya. Kemudian berkali kali dia memeluk ibunya yg shock berat kerena mendadak ditinggal suami. ‘ Sabar ya Bunda, sudah ya Bunda’ kata Mila.

Beberapa jam kemudian prosesi penyelenggaraan jenazah disiapkan. Kain kafan disiapkan dan jenazah segera akan dimandikan. Sementara si Taqi asyik bermain-main, lari kesana dan kemari. Dia belum paham apa yg terjadi. Malah dia keliatan gembira karena banyak orang di rumah dan sodara2 sepupu nya yang datang.

Sebelum ikut memandikan tiba-tiba aku diberi sebuah kamera digital oleh tante (kakak ipar Pak Etek). Kamera itu masih tersimpan rapi dalam kardusnya. Saat kubuka….., ya ampun.., ini kamera yg dibeli Pak Etek beberapa waktu lalu saat dia ke Pekanbaru, dan aku yang nemanin dia saat membelinya. Aku coba cek isinya, sudah ada beberapa photo yang di dalamnya. Ada photo Mila, photo Tagi dan photo pemandangan. Photo Pak Etek gak ada.

Diketahui kemudian, ternyata kamera digital itu meskipun yang pergi membeli adalah Pak Etek, tapi uang yang digunakan untuk membeli ‘bukan’ uang Pak Etek., tapi uang Mila! Kamera itu sebagai hadiah ulang tahun dari Mila untuk papa nya. Bagaimana Mila yang masih kelas 6 SD itu bisa beri hadiah ultah kamera senilai 1,4 jt? Ternyata dari hasil tabungan. Mila telah belajar menabung sejak dari kecil. Uang jajan harian yang diberikan oleh ayahnya atau yang pernah diterima dari nenek, paman, tante atau oleh siapa aja, di saat2 tertentu seperti lebaran misalnya, sebagian selalu ditabung. Itu dilakukan selama bertahun-tahun sejak dia mengenal uang. Hasil tabungan itu lah yang dijadikannya untuk membeli kamera digital sebagai hadiah ultah papa nya. Sekarang kamera itu digunakan untuk mengabadikan jenazah ayahnya. (Kebetulan saat itu tidak ada lagi kamera satupun yang ada selain kamera tersebut.)

Kembali ke jenazah, baru pertama kali jg dalam hidupku aku memandikan dan mengafani jenazah. Beberapa kali sempat terjadi diskusi diantara yang hadir, yang paham soal fiqih penyelenggaraan jenazah. Tapi aku tidak ikut2an diskusi karena tidak begitu paham. Selain itu karena pergulatan panjang yang melelahkan yang dulu pernah berkecamuk di otakku soal Agama, Islam dan Tuhan membuatku memilih diam saja. Aku ikuti saja prosesi dengan penuh hikmad. Bagaimanapun, bagiku soal kematian tetap sebuah rahasia yang besar, meskipun manusia melalui ilmu dan filsafat terus mencoba membongkarnya.

Setelah dimandikan, dikapankan, dan disholatkan di Masjid, ratusan orang pun berbondong-bondong mengatarkan jenazah Pak Etek ke tempat peristirahatan terakhir. Untuk kota kabupaten sekelas Payakumbuh, jumlah pengantar ratusan sudah terhitung sangat besar. Dia memang dikenal oleh banyak orang. Selain pribadinya yang sangat baik dan menyenangkan, dia jg aktif di lingkungan dakwah, pendidikan dan pengembangan masyarakat petani. Sebagai pihak keluarga ada sedikit haru karena ternyata bukan cuma kami keluarga yang merasa kehilangan. Tapi orang lain jg banyak orang merasa kehilangan.

Sementara itu di pemakaman si Mila tidak mau jauh-jauh dari ibunya, dia paham betul ibunya blm pulih dari shock berat. Dia pegang terus tangan ibunya. Anak yang baru kelas 6 SD itu seperti ingin menegaskan bahwa dia akan terus menjaga ibunya untuk selamanya. Sedangkan si Taqi tetap riang, walaupun sedikit bingung saat melihat jenazah papa nya dimasukkan ke dalam lubang. Lalu dalam gendongan, sambil menunjuk lubang kuburan dengan polos dia bertanya, pertanyaan yang membuat siapa yang mendengarnya langsung terenyuh, ” Oh papa dimasukin ke situ ya….?”

Selamat Jalan Pak Etek…

5 Comments

  1. Turut berduka cita mas…….

  2. Makasih Dun…

  3. Turut berbela sungkawa…….

  4. Tengkiyu Jenk…

  5. turut berduka ya…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s