ITS Makelar Tanah Lapindo?

Berbagai upaya dilakukan untuk membendung suara kritis yang menentang penyimpangan dan ketidakadilan. Aku baru dapat kabar dari Mardun bahwa Tomy dan beberapa kawan mahasiswa lainnya terancam diskorsing atau dipecat akibat aksi soal Lapindo yang mereka lakukan di kampus ITS. Mahasiswa menggugat pihak ITS karena berdasarkan informasi yg mahasiswa miliki, orang2 ITS yang mendata aset warga Porong berperilaku sebagai makelar. Namun justru sekarang mahasiswa terancam diskorsing atau dipecat krn dianggap telah mencemarkan nama baik kampus.Sepertinya pihak rektorat menggunakan pola2 lama dengan menggiring kasus kepada soal pencemaran nama baik daripada soal subtansi yang dipersoalkan mahasiswa.

“TAHU GAK ANDA WAHAI BAPAK2 REKTORAT? SAYA DAN MUNGKIN RIBUAN ALUMNI ITS LAINNYA JUSTRU MERASA TERCEMARKAN NAMA BAIK KAMI DENGAN ADANYA ISU BAHWA ITS JADI MAKELAR TANAH!!

ISU ITU YANG HARUSNYA ANDA USUT!!!

BUKAN DENGAN MENGANCAM SKORSING ATAU MEMECAT MAHASISWA!!!

JIKA ANDA PIHAK REKTORAT DAN BIROKRAT KAMPUS REAKSIONER MENGHADAPI AKSI KAWAN-KAWAN MAHASISWA INI, MAKA PATUT KAMI CURIGA KEPADA ANDA, DIMANA SEBENARNYA KEBERPIHAKAN ANDA?

LAPINDO?

RAKYAT?

ATAU MALAH MAU CARI UNTUNG SENDIRI DENGAN MENJADI MAKELAR TANAH???”

Beritanya berikut ini:
Rektorat ‘Tegur” Tiga Mahasiswa ITS Pendemo Soal Lapindo
Tiga Mahasiswa ITS Terancam Sanksi
ITS berdalih Bahwa Pemanggilan Tiga Mahasiswa ITS Bukan Karena Lapindo
Aksi Para Aktivis Diadukan ke Ibu Masing-Masing
Mahasiswa Aksi Lagi Sindir Rektorat Kampus

21 Comments

  1. Waduh2 lha kok serem amat neeh… ada makelaran di tengah rakyat yg susah?

  2. Waduh…. Galak banget fa.
    Sabar2… masa depanmu masih panjang, jangan galak2 nanti energi kamu habis duluan, ujung2nya jadi lelah syahwat….

    Seperti petuahmu dulu, “jangan sampai kamu ejakulasi duluan sebelum bersenggama dengan kehidupan yang real…”

    Cheerss..🙂

  3. *Mbak Evy
    Iya neh, bukan lagi memancing di air keruh, tapi memancing di air lumpur. Makanya harusnya pihak rektorat mengusut hal tersebut, bukan malah mengancam DO kawan-kawan mahasiswa

    *Gogon Surogon Mariogon
    Ini soal real gon, makanya ejakulasi sampai muncrat seperti dia atas :>

  4. Sepakat!
    Sepakat!
    Yang penting substansinya. Bukan maen skorsing, DO, segel atau apalah teknik mereka untuk membungkam suara mahasiswa.

    Kalo kata rektor yang baru sih ingin jadi pelayan mahasiswa.
    Iya, melayani mereka dengan meluluskan lebih cepat dari seharusnya.

  5. Ini sebenarnya yang diperjuangkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAWW dulu, tapi kok tidak nurun ke kita ya? kita tidak jeli, kita ceroboh. kita terlalu muluk berdebat pada hal2 temeh, cabang dan tidak perlu. yang sesungguhnya selalu ditentang oleh Nabi adalah ABSOLUTISME KEKUASAAN. Seorang Nabi TIDAK PERNAH menundukkan muka saat berdapan dengan seorang raja atau para penguasa, meskipun tangan terborgol dan kaki dijerat. tapi bagaimanapun, hanya sedikit orang-orang yang memiliki KEBERANIAN semacam ini. Yang mungkin coba dilakukan oleh aparatur ITS adalah semacam PENYERAGAMAN OTAK, dan dengan demikian keputusan yang diambil untuk melakukan apa dan bagaimana adalah bersifat final dan mutlak. karena itu orang2 yang berada dalam sistem kekuasaannya dan bergantung padanya, tidak boleh berseberangan dengan langkah2 besarnya, jika berseberangan alih-alih protes, maka mereka hendaknya keluar dari sistem. inilah absolutisme, dan inilah yang mustinya ditentang. karena itu pihak yang seharusnya melakukan advokasi pertamakali adalah dari JMMI, orang2 masjid di lingkaran ITS, karena merakalah yang sudah terlanjur DIANGGAP tahu soal agama. tapi kenyataanya???? anda bisa lihat sendiri kan??? mereka hanya sibuk pada ngingatin orang2 agar celana dilipat sampai diatas mata kaki dan semacamnya………oh My God..

  6. Loh… aku kok malah mikir lain ya?

    Aku pikir stupid-lah apa yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa itu, mereka lagi-lagi masih menggunakan cara-cara yang amatiran dan kampungan dalam mengemukakan aspirasi. Melakukan demo dan aksi itu kan sudah menggiring publik pada sebuah opini tertentu. Dan repotnya opini yang digiring itu belum tentu benar. Harusnya mahasiswa itu belajar keras cara mengorganisir informasi, dianalisa lalu dilakukan cross check. Jangan maen sikat aja….

    Kalau ada orang ITB, baca berita itu mereka mungkin berfikir,”Gila ITS… hina banget pihak rektorat jadi makelar tanah. Untung gue dulu waktu SPMB milih ITB di pilihan pertama”. Kalau ada masyarakat umum baca, mereka bergumam,”Tujuh turunan saya gak mau nyekolahin anak saya di ITS, gak mau ketularan rusak”. Dan lain sebagainya.

    So, siapa yang paling dirugikan? Pasti seluruh civitas akademika ITS. Kalau saya pribadi sebagai anak ITS, sangat sakit hati membaca berita bahwa ITS menjadi makelar tanah di Sidoarjo. Tapi lebih kesel lagi liat cara-cara mahasiswa mendemonstrasikan aspirasinya. Karena sama saja menyebarkan aib diri sendiri
    ke publik, lebih parah lagi malah bahwa itu belum tentu benar. Lah… Tuhan saja masih mau menyembunyikan aib hambanya… masa kita sebagai makhluk Tuhan tidak mau belajar dari yang menciptakan kita?

    Nah, siapa yang berani bertaruh…. Aku yakin kalau rektorat baca blog ini, eh bukan nya malah tercerahkan dan membatalkan sangsi untuk mahasiswa2 yang bermasalah itu, mungkin malah marah besar dan semakin kalap sehingga yang timbul adalah sikap defensif bahkan cenderung represif. Yang dilakukan oleh pihak rektorat sudah jelas salah, karena memberikan sangsi kepada mahasiswa seenak perutnya, karena sudah jelas salah jadi gak usah diomongin lagi. Yang penting adalah cara berfikir kita,
    jangan sampai kita jadi manusia yang kerjaannya cuma bisa nyiramin bensin ke api. Kita harus cerdas dan cerdik dalam menyikapi masalah2 seperti ini.

    Kalau saya jadi jadi mahasiswa yang bermasalah itu, simple aja, dengan niat yang tulus saya datangi rektorat, lalu mengatakan,”Kami minta maaf atas aksi atau demo yang telah dilakukan karena telah menyakiti seluruh civitas akademika ITS, tanpa melakukan cross check serta memberikan kesempatan kepada pihak Rektorat untuk menjelaskan. Tapi permintaan maaf ini bukan terkait atas substansi permasalahan makelar tanah di ITS, itu lain soal. Dan kami tetap menagih janji bapak-bapak untuk menjelaskan dengan sejelas2nya kepada publik tentang kejadian yang sebenarnya, Kami tidak takut dan kuatir dengan sangsi DO yang diberikan kepada kami, tapi kami lebih takut dan sedih
    apabila ternyata berita tentang makelar tanah itu adalah BENAR”.

    Pada akhirnya, siapa yang paling berjiwa besar, apakah mahasiswa atau rektorat, dialah yang akan jadi pemenang. Masih untung berurusan dengan pihak rektorat, suatu komunitas manusia yang terdidik, yang tentunya masih sadar akan nilai2 dan integritas. Gimana lagi kalau berhadapan dan berurusan dengan preman pasar ?

    Ini sebenarnya masalah kecil dan sederhana….. Kita aja yang doyan ngegede-gede-in, karena kita tidak cerdas dalam menyikapinya. Masih banyak masalah2 besar yang nantinya akan menuntut lebih banyak energi…..

  7. *mujib

    Ada kalanya dalam hidup ini, kita tidak bisa membuat setiap orang melakukan apa yang kita lakukan. Mengajak berfikir sama seperti apa yang kita pikirkan. Mau secerdas dan sebriliant apapun ide sampeyan, tidak akan selalu bisa membuat orang nurut dan mengikuti semua ide-ide sampeyan🙂

    Dalam diri mereka (JMMI) mungkin saja jauh lebih kompleks dan tidak sesederhana seperti yang sampeyan bayangkan agar mereka mau ikut melakukan aksi seperti yang dilakukan teman-temannya.

    Mungkin mereka telah melakukan, sedang melakukan atau bahkan akan melakukan dengan cara mereka sendiri. Cara yang menurut mereka paling benar. Masalah cara adalah sebuah proses, benar menurut mereka belum tentu benar menurut sampeyan dan begitu pula sebaliknya.

    Tapi itu tidak masalah… karena yang penting adalah tujuannya. Kalau kita ingin membuat orang mengikuti apa yang kita inginkan, kita harus berprasangka baik dulu. Berfikir adil dan menempatkan mereka pada perspektif yang benar.

    Adil harus dimulai dari dalam hati, lalu naik ke pikiran kemudian dimanifestasikan dalam kata-kata dan tindakan. Kalau kita sudah tidak adil dan berprasangka tidak baik baik kepada mereka… sampai kiamat mereka tidak akan mengikuti apa yang sampeyan inginkan…..

  8. *Gogon Surogon Mariogon
    Aku rasa soal mencari keuntungan di tengah penderitaan orang lain bukan lah soal kecil. Tapi soalnya memang sederhana jika pihak rektorat mengambil sikap keberpihakan yang jelas. Masalah jadi ruwet justru karena rektorat reaksioner merespon sikap kawan2 mahasiswa itu, makanya aku jadi curiga dan mempertanyakan keberpihakan ITS dalam kasus Lapindo.

    Menurutku yang namanya penyakit, borok, atau aib ,justru harus dibersihkan, bukan disembunyikan, apalagi menyangkut kepentingan orang banyak. Dan ketika kita berbicara soal penyimpangan dan ketidakadilan, tentu kebanggaan2 semu merek almamater bukan lagi suatu hal yang penting!

    *Mujib & Gogon
    Soal JMMI, aku no comment, karena aku rasa di luar topik🙂

  9. Berhubung saya (masih) mahasiswa jadi komen sebagai mahasiswa ya.

    Menurut jiwa muda saya yang bergolak-golak dan karena saya sedikit mengenal teman-teman yg berdemo, saya pikir mereka adalah mahasiswa yang cukup cerdas dan hati-hati.

    Maksudnya sebelum demo tentu mereka sudah melakukan penyelidikan untuk mengonfirmasi rumor itu, dan mereka melihat indikasi bahwa itu benar, karena itu mereka bergerak.

    Beberapa kali rektorat melakukan represi seperti ini.
    Seingatku dulu waktu skorsing2an lagi ngetrend, Himanya HMTC sempat disegel sampai dua kali. Kali kedua disebabkan karena kami membawa isu skorsing ke media. Kami menyoroti prosedur skorsing yang tidak benar, semena-mena dan tanpa hearing dari kami (HMTC dan SC). Dan permintaan kami untuk audiensi hanya berlangsung 5 menit, karena dengan penuh arogansinya PR 3 menyudahi rapat, sejuta pertanyaan yang berkecamuk di hati ini malah nggak tersalurkan.

    Jadi bisa dibilang, emang rektoratnya yg represif. Jadi kalau mahasiswanya sudah kadung mangkel sama rektorat, dan ngerasa jalur diskusi sudah buntu, salah siapa coba?

    NB: Ini didasari darah muda yg bergejolak, jika ada kata2 yg nggak tepat mohon maaf.

  10. Aku tidak tahu bagaimana cara mahasiswa itu menyalurkan aspirasinya. Tapi yang aku baca dari informasi diatas dengan menggunakan aksi atau demonstrasi. Dan ternyata semua itu telah menyebabkan rektorat mengeluarkan sikap yang reaktif sehingga menjadi marah.

    Aksi atau demonstrasi sebaiknya digunakan apabila semua jalur aspirasi sudah buntu, dan kita butuh kekuatan massa untuk menekan pihak2 yang dianggap telah menindas. Kita menggiring opini publik untuk menyetujui dan mendukung apa yang kita perjuangkan. SYARAT yang utama adalah semua jalur aspirasi sudah buntu dan apa yang kita perjuangkan sudah DIBUKTIKAN kebenarannya.

    dnial :
    “Maksudnya sebelum demo tentu mereka sudah melakukan penyelidikan untuk mengonfirmasi rumor itu, dan mereka melihat indikasi bahwa itu benar, karena itu mereka bergerak.”

    Itu informasi yang sudah didapat sudah dikonfirmasi ke pihak rektorat atau belum ? Kalau belum walaupun faktanya bisa jadi benar, ya jelaslah mereka marah2…… Sekarang gimana kalau seandainya informasinya ternyata salah atau kurang lengkap atau tidak berimbang ? Kan mahasiswa cuma dengerin informasi dari satu pihak saja, cuma dari lapangan, sehingga dengan kata lain tidak lengkap. Ya mesti di cross check juga donk dengan pihak rektorat.

    Kalau belum apa2 sudah bergerak ya pasti jadi bumerang donk buat mahasiwa.

    Satu lagi aku ingin mengingatkan apa yang dibilang dalam Madilog nya Tan Malaka. Kesalahan kita seringkali terjadi karena kita terlalu cepat mengambil sebuah kesimpulan tanpa disertai oleh sebuah fakta yang bisa dibuktikan kebenarannya. Fakta itu adalah sebuah lantai bukti. Fakta didapat melalui proses pengambilan informasi yang komprehensif dan jangan dari satu pihak saja. Repotnya kita sering mengambil sebuah kesimpulan dari asumsi-asumsi orang atau asumsi-asumsi diri kita sendiri lalu kita mengambil kesimpulan. Dan itu adalah salah besar.

    Hal seperti ini sering dilakukan oleh media-media. Dan aku sangat muak dengan tingkah dan polah media-media yang sering menampilkan sebuah berita yang tidak berimbang. Mereka harus bertanggung jawab terhadap opini-opini yang telah ditampilkan dan karena telah menggiring para pembaca untuk menampilkan citra buruk suatu pihak. Tatanan hidup masyarakat kita bisa rusak dengan cara berfikir seperti ini.😦

    *Aufa
    Komentar kamu gak nyambung fa…. Baca ulang lagi comment aku sebelumnya diatas.

  11. Sebagai mantan mahasiswa😛 saya cuma bisa bialng gini.

    Waktu saya kuliah memang saya akui darah muda saya sangat bergejolak. Kecenderungan untuk melawan apa yang dianggap tidak beres itu besar. Tapi itu tidak terlalu menghalangi saya untuk berpikir rasional (karena selama kuliah kita selalu dipaksa berpikir rasional).

    Kalau kita bisa membunuh kecoa dengan segulung kertas koran, kita nggak perlu melindas dia pake sepeda motor kan?, buang-buang energi, belum lagi rugi bensin dan dibilang gila sama tetangga karena ngelindas kecoa pake sepeda motor. Terus nanti ada anak kecil liat kita dibilang sadis dll😛

    Memang penyelidikan mahasiswa terhadap suatu masalah sebelum mengambil kesimpulan sering tidak utuh, gimana mau utuh kalo pihak yang dikonfirmasi nggak mau ngasih jawaban? dan saya nggak mau berdebat soal “gimana cara nanyanya, sopan nggak?” soalnya berbagai model cara konfirmasi udah dicoba, tapi yang namanya orang punya aib masa mau ngaku?.

    Sejak pertama kenal yang namanya demo (dikenalin mas Aufa😛 ) saya selalu diajarin kalau demo itu JALAN TERAKHIR. Sepakat sekali. Demo hanya ditempuh kalau jalan “baik-baik” sudah buntu. Jadi saya juga mohon mas Gogon jangan apriori dulu-lah sama orang yang suka demo, anda kan cuma ngeliat waktu demo-nya. Anda kan nggak ngeliat kalau 2 atau 3 bulan sebelum demo dia/mereka sudah mencari-cari info ke sana-sini dan konfirmasi ke sana-sini tapi…………. yah gitu deh🙂

    nah sebagai alumni sikap saya jelas, saya muaaaaaaaaaaaluuuuuuuuuu banget sama ITS KALAU memang tuduhan itu benar. Kurang apa coba cobaan buat ITS, mulai dituduh makelar Tanah sampai kasus Amdal palsu. Eh malah ditambah sikap pimpinannya yang suka obral skorsing sama DO (saya pernah kena skors, hiks).

  12. Sebagai mahasiswa peserta aksi yang dipermasalahkan, saya cuma bisa bilang kalo aksi itu direncanakan kayak bikin makalah: kita selalu mulai dari menyusun latar belakang, pembatasan masalah, pendefinisan masalah , kemudian sampai ke tujuan masalah. Nah, dari tujuan masalah ini sampai ke sasaran, sasaran sampai ke target. Lalu dirancanglah format aksi yang dianggap sanggup memenuhi pencapaian target.

    Target kita ketika itu tidak terlepas dari salah satu faktor yang merangkai latar belakang. Jauh di belakang hari sebelum aksi, di tahun 2006, beberapa warga Porong berulang kali mendatangi LPPM untuk meminta data. Tapi malang sekali, sama seperti mereka datang, mereka pulang tetap dengan tangan kosong. Padahal, warga tidak akan menggunakan data itu untuk tujuan aneh-aneh, tetapi sekedar mau tahu sebenarnya data itu seperti apa wujudnya dan untuk apa itu digunakan. Warga tahunya selama ini mereka didata dan didata, tetapi untuk apa data itu dan hasilnya seperti apa tidak pernah diberi tahu. Sudah berulang kali di tahun 2006 lalu, ada rencana untuk menggugat perselingkuhan antara penguasa-pengusaha-akademisi kampus dalam kasus lumpur Lapindo ini. Triumvirat itu berhadap-hadapan dengan warga, dan sudah bisa ditebak siapa yang menang dan siapa yang lagi-lagi dikalahkan.

    Nah, itulah salah satu faktor yang membuat aksi menjadi panas. Latar belakang emosional di belakang hari itu tentu berpengaruh semakin membesar ketika pihak-pihak ITS dan LPPM yang menemui massa aksi justru memerankan sosok yang arogan. Banyak peran dan ekspresi yang bisa diambil di dunia ini ketika kita menemui massa aksi, tetapi dua orang pihak ITS, yaitu PR III dan satu orang ibu cantik dari LPPM ITS, justru mengambil peran yang salah, yaitu peran arogan. Tapi ibu dari LPPM ITS itu sudah nggak emosional lagi ketika perwakilan warga n mahasiswa duduk semeja di ruangannya. Malah ketika teleponnya berdering, ibu itu mengangkat dan bergurau bilang gini: ‘aku didemo nih, yang demo cakep-cakep lho, tapi lumpuran, mau tak kenalin ta?’. Kemudian, untuk data tadi, warga hanya dijanjikan bisa memperolehnya apabila melengkapi dirinya dengan identitas dan bla-bla-bla lainnya

    Hehehe, yang diatas itu sekilas aja. Mungkin media komunikasi massa seperti TV, suratkabar, radio, sampe internet pun nggak sanggup meliput setiap peristiwa secara utuh. Semua dari kita (termasuk saya) juga tidak bisa melihat semua peristiwa secara utuh. Kalau ada yang sudah merasa bisa melihat peristiwa secara utuh dari berbagai dimensi, saya pikir orang itu berbakat menjadi Tuhan. Karena itulah saya dan kawan-kawan secara sadar menempatkan diri hanya sebagai manusia yang melengkapi keseimbangan saja agar penguasa tidak semena-mena menganggap bencana hanya sekedar sebagai ‘proyek’ untuk mencari popularitas lembaga atau individu.

    Jika ada orang atau makhluk hidup yang menganggap aksi kami itu sebagai tindakan ‘stupid’, saya atas nama kawan-kawan mengucapkan berterima kasih karena sudah menyempatkan diri menilai dan menghakimi orang lain. Saya hanya berharap setiap penilaian dan apapun yang kita lakukan, tentunya dengan kesadaran bahwa itu kita lakukan tanpa klaim keutuhan perspektif.

    Kalau mau melihat peristiwa secara utuh dan menimbang-nimbang salah benarnya, maka ada jalurnya yaitu lewat jalur hukum. Saya sendiri sudah menawarkan kepada pihak TPP (Tim Penyelesaian Pelanggaran) dalam pernyataan tertulis, ‘sebaiknya TPP dibubarkan dan jika pihak ITS merasa nama baiknya dicemarkan, silahkan bawa saja kasus ini ke pihak yang berwenang’. Lucu sekali kalau orang-orang yang disekolahkan di luar negeri untuk bidang keilmuan sains teori hingga terapan itu justru di kampusnya ditempatkan dalam posisi seperti polisi dan hakim ketika berhadapan dengan mahasiswa. Saya tidak tahu jadinya akan seperti apa, mudah-mudahan mereka tidak terlalu mengecewakan, hehehe….Yang jelas, lapangan pekerjaan polisi dan hakim bisa-bisa semakin berkurang karena diambil alih para profesor dan doktor sains di kampus-kampus. Hehehe, ada-ada aja….

  13. ini komentar saya untuk mardun :

    Waktu saya kuliah memang saya akui darah muda saya sangat bergejolak. Kecenderungan untuk melawan apa yang dianggap tidak beres itu besar. Tapi itu tidak terlalu menghalangi saya untuk berpikir rasional (karena selama kuliah kita selalu dipaksa berpikir rasional).

    Oh ya bagus sekali itu, wajar kalau masih muda itu kiri, dan sudah tua jadi kanan. Repotnya kalau masih muda sudah pro status quo. Wah mau taro dimana generasi muda bangsa ini ?

    Tapi yang jadi masalah adalah, sebaiknya kita tidak berlindung dibalik alasan ‘darah muda’, karena sering kali itu dijadikan alasan oleh para ‘darah tua’ untuk melebarkan jurang pemisah dengan orang muda. Orang tua susah memahami orang muda dan orang muda susah untuk memahami orang tua. Jadi sering kali gak ketemu. Aku yakin ada suatu titik dimana orang muda dan orang tua bisa saling memahami🙂

    Kalau kita bisa membunuh kecoa dengan segulung kertas koran, kita nggak perlu melindas dia pake sepeda motor kan?

    Iya harus nya pakai C4 hehehehehhe

    Memang penyelidikan mahasiswa terhadap suatu masalah sebelum mengambil kesimpulan sering tidak utuh, gimana mau utuh kalo pihak yang dikonfirmasi nggak mau ngasih jawaban? dan saya nggak mau berdebat soal “gimana cara nanyanya, sopan nggak?” soalnya berbagai model cara konfirmasi udah dicoba, tapi yang namanya orang punya aib masa mau ngaku?.

    Kamu beruntung kuliah di lingkungan kampus yang gak karu2an seperti ITS, artinya kamu memiliki kesempatan untuk ‘memberi’ dan ‘berbuat’. Sama beruntungnya kita hidup di negara yang kacau balau seperti di Indonesia, coba kalau negara kita adil makmur sentosa gak ada korupsi?Jadi yakinlah bahwa semua apa yang kamu lakukan tidak akan sia2.

    Masalah “bagaimana caranya, sopan atau enggak?” ya kamu yang paling tahu, apakah itu sopan atau enggak, apakah yang kamu lakukan bisa membuat mereka jadi tercerahkan atau malah kalap? Kamu lah yang paling tahu. Saya hanya melihat output nya saja…..

    Jadi saya juga mohon mas Gogon jangan apriori dulu-lah sama orang yang suka demo, anda kan cuma ngeliat waktu demo-nya.

    Oh justru sebaliknya. Saya sama sekali tidak apriori, jadi jangan salah tangkap disini. Saya tidak apriori terhadap demonstrasi itu sendiri. Tidak ada kata-kata saya yang mendiskreditkan tentang demonstrasi atau orang- orang yang berdemonstrasi. Saya hanya ingin MENDIALEKTIKAKAN apakah yang dilakukan oleh para mahasiswa itu adalah langkah yang tepat atau tidak…..

    Saya paham dengan tulisan2 anda diatas, tentang latar belakang sampai terjadinya demonstrasi itu. Anda selalu punya jawaban untuk menjawabnya🙂

    Mencari alasan untuk membenarkan tindakan kita itu gampang, mudah sekali. Sekali kita tidak setuju terhadap sesuatu, akan ada ribuan alasan dibelakangnya untuk membenarkan ketidaksetujuan kita. Begitupun sebaliknya, sekali kita setuju terhadap sesuatu, akan banyak cara dan alasan untuk menyetujuinya.

    Yang penting adalah bukan alasan, itu hanya bagian kecil dari dialektika. Akan terjadi proses tesis dan antitetis untuk mencapai sintesa. Itu hanya dapat diperoleh melalui introspeksi dan kesadaran tingkat tinggi, menelaah dan menganalisa apa yang sudah dilakukan, apakah sudah tepat atau tidak. Saya hanya ingin mengajak kamu berfikir dengan jernih. Ini belum seberapa, masih banyak kasus2 lain yang nantinya akan lebih banyak menguras energi…..

    Selamat Berjuang🙂

  14. Untuk Tomy :

    Saya tidak ingin berkomentar panjang lebar, tapi saya paham dengan semua isi tulisan kamu.

    Jika ada orang atau makhluk hidup yang menganggap aksi kami itu sebagai tindakan ’stupid’, saya atas nama kawan-kawan mengucapkan berterima kasih karena sudah menyempatkan diri menilai dan menghakimi orang lain. Saya hanya berharap setiap penilaian dan apapun yang kita lakukan, tentunya dengan kesadaran bahwa itu kita lakukan tanpa klaim keutuhan perspektif.

    Walaupun saya tidak paham dengan apa yang dimaksud dengan ‘klaim keutuhan perspektif’ (mungkin istilah baru?), Tapi saya juga mengucapkan terimakasih karena kamu juga telah menghakimi saya karena saya dianggap telah menghakimi kamu.

    Tolonglah lebih berfikir dan bersikap dewasa….. Jangan bersikap defensif, tidak nyaman karena dibilang stupid. Nah ini masalahnya juga, biasanya kalau demonstrasi mahasiwa itu paling sering ‘menstupid’-kan orang. Kalau berani men’stupid’-kan orang maka harus berani menanggung resiko untuk di’stupid’-kan orang.

    Masa kita sebagai orang muda kalah dewasa dengan para rektorat? Mungkin rektorat itu sudah ribuan kali di’stupid’-in sama mahasiswa, lah kalau mahasiwa nya sudah defensif karena di’stupid’-in, lalu apa bedanya para rektorat dengan mahasiwa ?

    Itu saja….. Tapi intinya aku sangat apresiasif dengan apa yang dilakukan para mahasiswa yang berjuang untuk menegakkan keadilan, minimal dikampus ITS, seperti yang diceritakan diatas. Kalian jauh lebih baik dibandingkan temen2 kalian yang kerjaannya cuma kuliah doank di kampus lalu lulus dapat nilai bagus. Sementara mereka buta dengan kondisi real yang ada di sekelilingnya. Menyedihkan……..

  15. ah menyenangkan melihat diskusi yang menyenangkan ini…

  16. soal demo lumpur lapindo. ada dua alasan kenapa hari itu kita aksi.
    1. Secara substansial, ada gejala-gejala yang kongkret terjadi dikampus-kampus, termasuk juga ITS. pembelokan yang sangat parah. Pembelokan yang saya maksud adalah idealisme kampus yang selama ini dikenal sebagai milik rakyat, ternyata tidak untuk kasus Lapindo. berbagai dokumen dan kronologis terpercaya telah kami pelajari. kesimpulan kami ialah memang benar bahwa kampus ITS sangat tidak berpihak kepada warga sebagai korban, tetapi lebih memilih berposisi sebagai “staf ahli” korporasi. Memang benar, kalau masalah teknis ITS diminta bantuan. Kalau masalah itu memang masih sah, konsultasi teknis dari sebuah kampus teknik terhadap korporasi yang telah menyebabkan bencana. tetapi tidak demikian seharusnya, untuk masalah sosial ekonomi. Mengapa ITS menolak permintaan data warga, mengapa ITS harus repot2 mengirim mahasiswa barunya untuk survei ke sidoarjo, apakah ini memang skenario besar perselingkuhan kampus+pemodal…????? memang benar kita anak teknik, tapi bukan berarti tidak punya keberpihakan kan..???
    2. simple, ada momentum menteri negara yang paling bertanggung jawab. kita tuntut tanggung jawab beliau atas lumpur sidoarjo

    hal-hal inilah yang justru mencemarkan nama kampus, tindakan birokrasi kampus. saya ingat sejelas-jelasnya ketika menonton berita di tv. Saat itu ada pemberitaan demo nelayan Madura yang menolak lumpur dialirkan ke laut mereka. Dan ada poster bertuliskan ITS : Institut Tukang Sulap Data….Kita tidak pernah berkoordinasi dengan nelayan madura ketika akan menggelar aksi lumpur. Tetapi mengapa ada poster yang berrnada hampir sama dengan poster kita. saya pribadi percaya, nama kampus sudah tercemar di masyarakat luar. Maka aksi lumpur kala itu dalam rangka meluruskan nama baik ITS dan mengembalikan kampus ke rel yang benar…Tapi mengapa justru aksi itu yang dianggap mencemarkan nama baik kampus kami..sungguh aneh..!

    kebijakan-kebijakan ITS di Sidoarjo telah merobek idealisme kampus, terutama mahasiswa, yang saat ini masih mempunyai nurani yang jujur.

  17. Menyakitkan sekali, saat dengan mata kepala sendiri tahu bagaimana perjuangan rekan-rekan mahasiswa yang lain melayani segala keluh kesah warga, menghibur anak2 yang kehilangan sekolahnya, meredakan tangis seorang ibu yang kehilangan harta bendanya.
    Tapi, apa yang terjadi sekarang, kalian menyebut almamater sebagai MAKELAR tanah! SUNGGUH IRONIS

    ATAS NAMA WARGA, kalian menghujat
    ATAS NAMA WARGA, kalian mengumpat
    ATAS NAMA WARGA, kalian berteriak
    ATAS NAMA WARGA, kalian membuat riak

    sekarang
    Apa kabar warga yang kalian bela itu???
    Tahukan kalian siapa warga itu?
    Bagaimana mereka sekarang?
    Kenapa sekarang kalian sibuk mencari dukungan kesana kemari (ATAS NAMA WARGA) untuk menyelamatkan diri dari kampus yang kalian sebut ANJING??
    Kalian telah berhasil membuat opini publik tak terbantahkan mengenai betapa TERANIAYA nya kalian, wahai mahasiswa “sempurna”

    Untuk ANDA pembaca tulisan ini
    tahukah Anda? permasalahan yang sebenarnya terjadi?
    Tahukah Anda? Apa yang mereka perjuangkan sebenarnya?
    Tahukah Anda? kami menunggu kabar 2 warga yang dijadikan alasan oleh rekan2 mahasiswa yang terhormat ini, tapi tak ada juga berita dari kelompok yang mengaku bergerak ATAS NAMA WARGA.
    Tahukan Anda?
    TENTANG PEMAHAMAN MEREKA TENTANG ETIKA DEMO???
    Sangat memprihatinkan, apabila Anda hanya mendengarkan informasi dari satu sisi saja.

    =Hanya sekedar mengajak Anda semua, untuk berfikir lebih jernih=

    Desi Cahya
    Mantan mahasiswa ITS.
    Mantan aktivis ecek-ecek yang juga pernah demo.
    Mantan aktivis kelas teri yang pernah juga dapet surat peringatan sangsi akademik.
    Mantan aktivis tak terkenal yang angkatannya disebut angkatan pemberontak oleh pak kajur
    Salah satu saksi kejadian.
    Pelaku pendataan.

  18. Desi..tulisan anda ga jelas maksudnya apa.
    jujur aja informasi emang dari satu sisi tok..kalo anda punya, kasih dunk kami info..
    supaya pembaca bisa menilai dari sudut yang lain.
    lha kalo sampeyan cuman menyumpah serapahi orang2 yang terkena skorsing tersebut,,
    kan tambah ga jelas….
    mungkin Desi bisa menceritakan lebih utuh gimana kondisi riil yang ada dilapangan.
    karena mungkin Desi langsung terjun ke masyarakat yang menjadi korban.
    and buat semuanya yang punya info mungkin bisa dijabarkan disini..
    data apa kek,ato apa kek…
    biar jadi diskusi yang membangun..ga cuman saling menyalahkan ato saling membenarkan..
    ITS makelar tanah??ayo coba kita buka semuanya….kalo emang makelar berarti bajingan kan??
    etika demo yang payah???ayo kita luruskan pemahaman tentang etika demo…mau mengkritik berarti harus mau dikritik bukan..
    perdebatan mengenai makelar vs etika gak akan pernah selesai kalo kita ga bicara bahasa dan hal yang sama
    satu berapi api masalah ITS jancukan, satunya lagi bilang Etika Demonya jancukan..
    lak jadi jancukan semuanya……

  19. Yang saya bingung sampai detik ini adalah ‘Mengapa kita harus berpihak kepada rakyat atau warga?’. Mengapa harus ada keberpihakan ?

    Lantas mengapa itu dijadikan parameter untuk memvonis bahwa ITS itu makelar tanah karena dianggap ‘adanya ketidakberpihakan ITS pada warga sebagai korban’?

    Bukankah harusnya kita berpihak kepada keadilan? Karena kalau kita berpihak kepada warga maka dengan demikian sampai kapanpun kita akan membuat penguasa sebagai penindas. Padahal belum tentu….

    Saya berpendapat kalau tatanan berfikirnya seperti itu, kasus ini tidak akan pernah selesai. Kalau saya lebih baik memilih diam, melihat dan mendengarkan dari pada action, karena takut justru akan memperkeruh suasana…

    —..—

  20. Hello!Dear
    Just found an amazing site.
    Wanna get free ringtones now? Any phone and carrier supported. Download Now For Free. Tons of Music. Millions of MP3’s.
    Come on in: http://www.ringtone-i.net
    BYE ALL!

  21. ITS itu sarangnya keadilan
    Kini sudah berdiri satu dua gedung bertaraf internasional lho
    jangan harap rakyat seperti korban lumpur diatas bisa berkuliah di kampus seperti ITS

    Hoiii.. !
    ITS bukan lagi berperan sebagai Anjing makelar tanah, sudah bermutasi, lebih menjijikkan lagi, yakk.. sebagai Tikus makelar Pendidikan.
    wkwkwk😆


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s