Petisi Online: Bubarkan IPDN!

Dengan kepala dingin aku mendukung pembubaran IPDN. Kekerasaan, arogansi, kebohongan dan kedunguan harus dihapus sampai ke akar2nya. Borok-borok yang selama ini disimpan rapat-rapat terus terkuak. Fakta-fakta mengerikan seperti di Detik.com dan fakta2 lainya telah mengguncang kesadaran masyarakat bhw ternyata IPDN membentuk calon pelayan masyarakat dgn cara-cara biadab dan tolol. Kampus megah itu lebih mirip camp penyiksaan daripada tempat pendidikan.

Meskipun upaya manipulasi dan kebohongan terus dilakukan dgn menyuntikkan formalin atau aksi tutup mulut, namun bau busuknya tak tertahankan lagi dan sudah menyebar kemana2. Tidak ada pilihan, kita jadikan kasus ini sebagai momentum untuk menghentikan semua bentuk kekerasaan di Indonesia. IPDN harus dibubarkan, jika kita memang masih menghargai nyawa manusia.

Silahkan bagi yg ikut mendukung pembubaran IPDN klik banner petisi di sisi atas homepage ini

21 Comments

  1. sebenarnya saya tidak setuju jika IPDN dibubarkan. memang akhir2 ini media memblow up ttg berbagai fakta di IPDN.
    ya saya juga sadar dan mungkin juga tersadarkan bahwa apa yang saya pikirkan ttg IPDN tidak semegah gedung na.
    mungkin saya cenderung lebih setuju dg merubah “sistem” yang ada di IPDN. menurut saya (yang pernah saya ketahui) bahwa alumnus IPDN sangat dibutuhkan dalam staff jajaran pemerintahan. ya minimal dari SDM…sebenarnya juga tidak menutup kemungkinan kl alumnus sarjana bisa disejajarkan dg alumnus IPDN.
    tapi dari alumnus IPDN mempunyai Plus tersendiri dlm pemahaman ilmu pemerintahan.
    ya terus terang saja mas ku juga alumnus STPDN angktan 93…heheh.
    memang ada beberapa daerah yang mentup pendaftaran IPDN untuk tahun ini, tetapi…ada juga daerah yang masih membuka pendaftaran IPDN (BEkasi…liputan 6 sctv.red) yang mana alasan mereka tetap membuka pendaftaran IPDN karena kualitas SDM dari IPDN bagus..masih dibutuhkan dalam staff pemerintahan.
    ya saja juga miris mendengar tentang kekerasan yang terjadi di IPDN.

  2. Mbak Retno yg baik, aku rasa memang berat untuk mengambil pilihan tertentu bila kita mempunyai keterikatan emosional. Karena itu kita harus berani melepas semua embel2 semu seperti kebanggaan almamater, solidaritas corp, dsb untuk dapat mengambil pilihan yang rasional.

    Semua kita sependapat bhw apa yg terjadi di IPDN sekarang tidak bisa dibenarkan, tinggal pilihan apa yang diammbil selanjutnya. Aku mendukung pembubaran karena kita tidak mau terjatuh 2x pada lubang yang sama. Tahun 2003 saat kasus wahyu hidayat, katanya sudah dilakukan perubahan sistem disana-sini, tapi ternyata terjadi lagi dan terjadi lagi. Aku rasa kita harus belajar dari sejarah..

  3. pandangan monolitik kekuasaan yang tampil secara konsisten HARUS dicurigai sebagai upaya untuk mempertahankan status quo yang ada, bukan begitu mbak retno??

  4. Mengutip komentarnya SBY,”Saya paham dengan keinginan sebagian masyarakat yang menuntut untuk membubarkan IPDN, tapi kita juga memperhatikan nasib para pradja yang sekarang kuliah disana dan dosen2 yang mengajar disana.”

    Lalu bagaimana nasib mereka semua kalau IPDN di bubarkan?

    Itu lah salah satu hal kecil yang membedakan cara berfikir SBY yang presiden dengan kita yang cuma seorang rakyat kecil.πŸ™‚

  5. seharusnya apa yang sudah ditunjukkan sudah cukup membuktikan, bubarkan!, agar kedepan lebih baik

  6. Ada 27 kematian praja, ada yang kepala pecah, ada yang dada remuk,ada yang jatuh dari lantai 3, ada yang hilang sejak 1992 blm ditemukan nasibnya, ada yg kabur karena gak tahan penyiksaan, ada yg gak berani pulang kampung karena takut dicari senior, ada penyuntikan formalin, ada aksi tutup mulut massal, ada terpidana yang bebas berkeliaran bahkan jadi sampai jadi pns, ada dosen yang diskor karena mengungkap fakta2. ..,dan berderet2 kisah horor lainnya kalo mau kita beber satu persatu.

    Oh cukup,aku rasa kita gak perlu berjudi agi. Kita kubur saja semua catatan hitam dalam dunia pendidikan itu,sambil diselesaikan hal-hal yang berkaitan dengan hukum. Persoalan dosen dan siswa yang ada sekarang tentu dicarikan mekanisme solusinya, bisa direlokasi ke daerah atau kampus2 lain. Itu harusnya jadi soal sepele bagi Presiden dibandingkan dengan soal nyawa yang hilang. Apa 37 nyawa masih kurang pak presiden???

  7. Waduuh kok aa fakta2 lagi, ga cukup kah fakta itu hiks pengen nangis

  8. TIDAK SETUJUUUUUU!!!!
    itu saya pengen teriak pas saya baca:

    Kita kubur saja semua catatan hitam dalam dunia pendidikan itu..

    Eh, ternyata ada lanjutannya:

    sambil diselesaikan hal-hal yang berkaitan dengan hukum.

    Jadi akhirnya ya saya SETUJUUUU !! Dan jangan lupa, harus usut tuntas semua kasus yang jadi terangkat gara-gara Cliff. Jangan biarkan dia mati sia-sia. Mungkin perannya kali ini memang jadi tumbal revolusiπŸ™‚

  9. Kalau yang diatas itu adalah pendapat SBY, tapi ini pendapat aku :

    Kalau alasannya adalah karena lulusan-lulusan dari kampus seperti IPDN tidak lagi dibutuhkan dalam konteks kekinian untuk menjadi aparatur negara dan hanya buang-buang duit rakyat saja, aku setuju dibubarkan. Tapi kenyataannya kan tidak, bayangkan bahwa jika IPDN adalah sesuatu yang IDEAL dimana kampus itu selalu mengajarkan disiplin, cinta negara dan pelayanan bagi masyarakat, bicara tentang morallitas, integritas, dan tidak ada lagi kekerasan seperti yang diberitakan akhir ini dll dll, aku pikir masih tetap dibutuhkan. Tidak banyak kampus2 yang fokus untuk mengajarkan hal2 seperti itu, apalagi kampus2 umum seperti ITB, UGM, UI atau ITS….. Nyaris gak ada.

    Kalau alasannya adalah deretan fakta-fakta yang yang menyembur tentang kebobrokan dan kerusakan-kerusakan yang telah dilakukan oleh kampus IPDN, maka jangan menyalahkan sistem tapi salahkanlah manusianya. Karena sistem dibuat oleh manusia dan manusia yang menjalankan sistem tersebut. Yang salah adalah dosen-dosen dan para rektor di IPDN (manusianya) yang gagal mendisain sistem yang baik atau mungkin saja sistemnya sebenarnya sudah baik tapi tidak mereka jalankan dengan benar, sehingga yang timbul adalah budaya-budaya kekerasan dan lulusan2 yang jauh dari harapan.

    Jadi, bukan sekedar 37 nyawa yang sudah cukup atau belum cukup… karena bukan itu pertanyaannya. Jangankan 37 nyawa, 1 nyawa pun juga sudah cukup untuk menggambarkan kebobrokan IPDN dan sudah pasti harus ada pertanggungjawabannya.

    Tapi masalahnya disini kan adalah IPDN dibubarkan atau tidak? Bukan soal SALAH atau TIDAK. Karena IPDN sudah jelas-jelas SALAH, jadi sudah gak perlu di omongin lagi. Tinggal bagaimana kita bisa melihat dimana letak kesalahannya IPDN. Dari situ dapat diambil sebuah kesimpulan apakah IPDN dibubarkan saja (katakanlah memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi ATAU rusak berat ATAU sudah tidak dibutuhkan lagi dalam konteks kekinian) atau mungkin dipertahankan dengan mengganti manusia-manusianya dan mendisain sebuah sistem yang benar2 baru dengan tetap bersandarkan pada pondasi tujuan yang utama.

    Semoga paham…..

  10. *Peyek
    Ya fakta2 yang ada sudah lebih dari cukup. Kasus kematian cliff bahkan juga membuka hal2 lain yang selama ini mungkin jarang kita perhatikan. Bagaimana pola pendidikan, proses recruetment, anggaran yang dihabiskan, produk IPDN di pemerintahan, semua menjadi bahan perhatian masyarakat.

    *Evy
    Ya maaf bu Evy kalo itu bikin bu Evy pengen nangis, karena kebetulan aku memang blm pernah posting soal fakta2, jadi biar yg blm tahu jadi tahu.

    * Wadehel
    Ya Cliff memang menjadi tumbal, kematian nya tidak sia-sia. Dia menjadi entry point dalam penghentian budaya kekerasan dan pembangunan aparatur birokrasi Indonesia. Namun hal itu hanya terjadi jika kita mampu mengambil momentum ini sebaik-baiknya.

    *Gogon Surogon Mariogon
    Bukankah kenyataan memang seperti itu? Tidak dibutuhkan lagi dlm konteks kekinian dan menghamburkan uang rakyat. Coba bayangkan, ternyata anggaran pendidikan untuk IPDN hampir lima kali lipat UI? Kaltim Post . Bandingkan sendiri bagaimana produk UI dgn produk IPDN.

    Selain itu lulusan IPDN yg disiapkan untuk menjadi lurah, camat dan birokrat pemeritahan jg sudah tidak sesuai kebutuhan perkembangan demokrasi Indonesia. Kepala2 pemerintahan seperti lurah skrg dipilih melalui mekanisme politik, seperti pilkada. Untuk jadi PNS jg tidak bisa langsung jadi, tetapi tuntutan keadilan mensyaratkan untuk jadi PNS harus melalui seleksi.

    Untuk membayangkan IPDN dlm kondisi ideal adalah sesuatu yg sangat sulit, jauh rokok daripada apiπŸ™‚ Karena memang setup awal pendidikan IPDN itu adalah untuk mencetak birokrat2 yang monolitik kekuasaan, otoriter dan sistem komando. Ini adalah pola2 pembangunan sistem kekuasaan orde baru dgn mejadikan apatur negara sebagai alat kekuasaan. Karena yang gampang dikontrol oleh negara dan mengontrol rakyat adalah militer, maka dulu semua pejabat daerah hampir semua diambil dari militer. Untuk IPDN yang sipil juga diterapkan pendidikan dengan cara militerisme. Dengan model aparatur yang seperti itu lah struktrur bangunan orde baru dulu bisa lama bertahan, karena semua bisa dipaksa tunduk, baik militer maupun sipil.

    Paradigma nya pun adalah pejabat sebagai ‘raja’, bukan ‘pelayan’,sehingga para calon raja itu pun mesti eklusif, berseragam, tinggal di tempat sendiri. Tidak berbaur dengan masyarakat. Cara yang digunakan jg adalah jg cara2 kekerasan. Jadi tidak heran jika perlaku aparatur pemerintahan kita dekat dgn cara2 kekerasan dlm menyelesaikan masalah. Contoh bagaimana perilaku brutal Satpol PP dlm bertindak terhadap rakyatnya sendiri hanya contoh kecil. Meski Satpol PP bukan lulusan IPDN, tapi atasan yang mengomando mereka kan banyak lulusan IPDN.

    Bagaimana kalo semua dirobah total tapi tidak usah dibubarkan? Memangnya apa kebijakan pemerintah untuk merubahnya? Aku mencatatnya begini: “pembekuan kegiatan internal praja, pengawasan lebih ketat kegiatan praja, pembentukan tim evaluasi lintas departemen untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap sistem pengasuhan dan kurikulum, demiliterisasi sistem pembinaan, dan penghentian penerimaan praja baru selama satu tahun”. Ternyata kebijakan seperti itu sudah dilakukan sejak kasus Wahyu HIdayat terjadi seputar-indonesia . Apa hasilnya? Bukannya berhenti tapi malah bertambah, Pak Inu mencata ada 4 orang lagi yang mati setelah kasus Wahyu.

    Ah sekali lagi aku katakan, kita mesti belajar dari sejarah. Hanya keledai dungu yang jatuh 2x pada lubang yang sama.

    Karena itu mau bagaimana lagi kita berbicara soal disiplin, cinta negara, pelayanan bagi masyarakat, morallitas dan integritas melihat kenyataan seperti itu? Lalu apakah di kampus2 lain ada diajarkan hal2 seperti cinta negara, moralitas dan integritas? Mungkin tidak, seperti yg digembor2kan di IPDN. Tapi coba kita bandingkan kampus2 yang katanya tidak mengajarkan moralitas itu dengan IPDN yang katanya mengajarkan moralitas? Justru IPDN satu2nya kampus yang memproduksi sedemikian banyak kasus kekerasan, yang nyata2 mempertontonkan arogansi, dan yang membudayakan kebohongan secara terstruktur, mulai dari rektor sampai mahasiswanya.

    Jadi Gon, pilihan untuk membubarkan IPDN adalah pilihan yang rasional. Bukan reaksi emosional sesaat karena melihat pemberitaan, lantas main bubar2 aja tanpa alasan2 yg jelas.

    Tapi aku akui memang dlm postingan ku blm aku sampaikan semua. Jadi semoga Paham

    Nah, satu hal yang sebenarnya kenapa aku begitu yakin dengan pilihan pembubaran IPDN adalah karena dgn pembubaran IPDN jg akan memutus mata rantai nepotisme yg berlanjut turun temurun dalam briokrasi kita. Bukan rahasia lagi bahwa banyak mahasiswa IPDN adalah anak-anak pejabat birokrasi. Banyak pejabat yang menitipkan anaknya di IPDN. Di IPDN pun mereka sekolah dibiayai dengan uang rakyat. Lulus dari IPDN mereka lantas jadi birokrat pegawai negeri seperti bapaknya. Lalu setelah dia punya anak jg dititipkan lagi ke IPDN, lulus jadi birokrat lagi, begitu seterusnya turun temurun..

    Karena itu sekarang adalah momentum nya. Pembubaran IPDN adalah langkah fundamental yang harus diambil untuk menunjukkan bahwa kita serius dan tidak main-main. IPDN harus dibubarkan untuk mendidik bangsa ini bahwa yang namanya kekerasan, arogansi, kebohongan dan nepotisme harus dihapus di Indonesia!

    Apa SBY dan pemerintah akan melakukan itu? hehehe, seperti yang pernah aku bilang, mana pernah mereka serius ngurus rakyat

  11. *Aufa :

    Nice Comment…….πŸ™‚

    Bandingkan sendiri bagaimana produk UI dgn produk IPDN.

    Jelas lebih bagus ITS…..πŸ˜€

    Untuk membayangkan IPDN dlm kondisi ideal adalah sesuatu yg sangat sulit, jauh rokok daripada api:)

    Oh sebenarnya deket kok, sedeket antara kentut dan taik, karena dari lubang yang sama…… πŸ˜€

    Tapi aku akui memang dlm postingan ku blm aku sampaikan semua. Jadi semoga Paham

    Aku maafkan, tapi lain kali jangan diulangi lagi ya…..πŸ˜€

    Apa SBY dan pemerintah akan melakukan itu? hehehe, seperti yang pernah aku bilang, mana pernah mereka serius ngurus rakyat

    Iya setahu aku memang cuma kamu yang serius ngurusin rakyat….πŸ˜€

    Aku sangat menghargai kamu karena telah nulis panjang lebar. Tapi tidak lantas aku mengiyakan dan setuju untuk mendukung pembubaran IPDN. Alasannya nyusul……

  12. IPDN???bunch of fucking pathetic systems!!!
    kasian anak2 ganteng itu jadi pembunuh n ga sadar bahwa itu pembunuhan..
    pembunuhan yang terencana akibat dari sebuah sistem yang dijalankan…

    bubar ato ga..whatever…
    yang jelas harus diselesaikan secara hukum smua kasus itu.

    sekolah itu seharusnya menjadikan orang itu manusia
    bukan mengajarkan untuk memukul ketika ada ketidaksepakatan..
    emang hewan apa???
    manusia lho bisa dibilangin…apalagi yang masuk IPDN,..pasti pinter2..
    sayangnya mereka keburu digebukin..dihajar..n ga diperbolehkan untuk mengambil jarak yang setara dalam berpendapat…
    did they never learn how to think???
    kenapa sih musti pake pukulan n tendangan…?

    gimana kita akan belajar???
    apakah justru kita ga pernah belajar???

    after a while ternyata bagusnya dibubarkan aja hehehe
    jancukan soale..hwhehehe

  13. Oh iya… ini utang aku…..

    Setelah aku baca ulang semua penjelasan kamu yang sangat berbobot itu, seharusnya kita bukan lagi bicara tentang apakah IPDN sebaiknya dibubarkan atau tidak.

    Karena kalau dibubarkan atau tidak itu hanya implikasinya saja atau action yang harus dilakukan, jadi untuk mempertajam diskusi kita pada pokok permasalahannya, menurutku yang benar adalah,”IPDN masih RELEVAN atau tidak saat ini? Apakah bangsa ini masih membutuhkan IPDN?”

    Kalau gak relevan DIBUBARKAN, kalau masih relevan DIPERBAIKI.

    Tapi aku 1200% setuju dengan penjelasan mu. Seperti juga yang aku bilang dalam postingan aku sebelumnya bahwa kalau alasannya adalah karena tidak sesuai dengan konteks kekinian memang harusnya DIBUBARKAN saja.

    Tapi dibubarkan atau tidak dibubarkan sebenernya itu masalah kecil, yang jadi masalah besar adalah bagaimana sebisa mungkin kamu bisa terus ngeblog…. heheheheh becanda….

  14. Aku jadi ingat sebuah pepatah atau apalah istilahnya, andaikan kita ingin menangkap seekor tikus di lumbung padi, apakah harus kita bakar lumbung itu?!
    Bagaimana pun IPDN adalah aset buat kita, bagi bangsa ini, sebagaimana ITB, ITS dan perguruan tinggi lainnya. Tinggal bagaimana IPDN bisa merubah paradigma, kurikulum, dan tentunya sistem pendidikan mengacu pada era kekininan.
    Apakah IPDN perlu di bubarkan? aku pikir TIDAK, sama seklai TIDAK PERLU

    Oke deh Aufa, kapan kita ngumpul2 lagi ??

  15. kalo IPDN dirubah paradigma,kurikulum,sistem pendidikan…kan sama aja bentuk Institusi pendidikan ilmu pemerintahan dunk..
    sama aja bubarin IPDN to?hwehehe
    lha wong dirubah smua….sama aja bentuk baru..

    misal punya kompie PIII mo diupgrade..tapi ganti mainboard,prosesor,memory,lak sama aja beli baru tuh?

  16. Yang namanya di bubarkan itu kan, berarti tidak ada lagi yang namanya IPDN, tidak ada lagi mahasiswanya, sama halnya dengan ketika POLRI tidak lagi di bawah militer, itu kan jelas merubah paradigman dan sistem nya jg, tapi kita kan tidak bisa bilang bahwa POLRI itu bubar
    Gitu lho…..:)

  17. bubarkan IPDN!! tapi dengan langkah-langkah dan prosedur yg benar ya.. peace

  18. jangan bubaaaaaarrr…

    q msh nuggu bt bs jd birokrat yg bs bangun bangsa ini….

    n sbenernya smua pihak ga boleh liat IPDN dr si2 jleknya aja…

    lulusan IPDN jg dh bnyak kbukti kok , berguna bt bnyak kalangan…

    berguna dg hal2 yang baek jg tentunya…

    makasih bt orang2 yang mau ngargai pendpt orang laen…πŸ™‚

  19. WE NEED YOU NOWWW……….
    Anda Sehat Jasmani & Rohani,
    Tinggi Badan: Pria Min;160cm, Wanita; 155cm dengan Berat Badan Ideal,
    Lulus Test Psikologi yg dilaksanakan oleh Dinas Psikologi TNI-AD,
    Sehat Kesemaptaan fisik maupun mental,
    Lulusan SMA/MA sederajat dengan Nilai UAN sesuai Standar Panitia Penerimaan,
    Ya, Andalah yg kami cari !!!,
    Bergabunglah bersama kami dalam Wadah Pendidikan & Pelatihan;
    INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI (IPDN) UNIT REGIONAL & TERPUSAT
    Untuk Info lebih lanjut Hubungi : Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kabupaten/Kota diseluruh Indonesia.
    Jadikan Potensi diri Anda untuk berguna bagi Rakyat baik secara Jasmani maupun Rohani.
    Untuk Saran & Kritik layangkan ke : franssinarta@ymail.com

  20. DEPARTEMEN DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH REPUBLIK INDONESIA
    Mengajak Putra, Putri terbaik Bangsa Lulusan SMA/MA Sederajat, Untuk menjadi Kader Pemerintahan Republik Indonesia, Abdi Negara dan Abdi Masyarakat dalam wadah ;
    INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI (IPDN) UNIT REGIONAL & TERPUSAT
    Daftarkan segera diri Anda ke Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kabupaten/Kota di Seluruh Indonesia.
    Informasi Lebih lanjut untuk waktu Pendaftaran dll, hubungi BKPPD di Kabupaten/Kota tempat Anda berdomisili.
    Pendaftaran dan Seleksi Calon Praja IPDN tidak dipungut Biaya Apapun.
    BAGIAN HUMAS DIREKTORAT PENDIDIKAN & PELATIHAN
    DEPARTEMEN DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH REPUBLIK INDONESIA.

  21. em…saya tidak setuju, saya sedikit tau….memang dlu ada kekerasan tapi sekarang benar2 bersih…..karena pacar saya salah seorang purna…ya masalah pendidikan yang semi militer itu sudah biasa ko…untuk mental…tapi mau gimana jangan mengungkit ungkit masa silam, mereka sudah mulai berbenah kok….harusnya kita dukung bukannya melihat hanya sisi buruknya saja, memang yang lebih di lihat itu sisi kekerasan yang terjadi kemarin, tapi coba lihat…apakah anda tau kegiatan rutin mereka, sangat menegakkan kedisiplinan…dan rata2 para praja sangat sopan kepada masyarakat sekitar, sampai pernah di suatu mal…saya mendapati seorang praja yang minta izin hanya untuk duduk di sebelah seorang ibu2, coba anda berfikir janganlah karena nila yang setitik rusak susu sebelanga…^_^


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s